Senin, 13 November 2017

Pembuatan Aplikasi Enkripsi Dan Dekripsi Dengan Algoritma Kriptografi Aes Menggunakan Pemrograman Java

Pembuatan Aplikasi Enkripsi Dan Dekripsi Dengan Algoritma Kriptografi Aes Menggunakan Pemrograman Java

Deskripsi:
Penelitian ini melihat sikap mahasiswa terhadap penyalahgunaan narkoba. Dengan tujuan yaitu, untuk mengetahui gambaran sikap terhadap penyalahgunaan narkoba secara umum, mengetahui gambaran sikap terhadap penyalahgunaan narkoba yang terkait dengan data penunjang, mengetahui dimensi yang lebih dominan sikap mahasiswa terhadap penyalahgunaan narkoba. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif deskriptif, dengan menggunakan bantuan kuesioner sebagai alat ukurnya. Dengan menggunakan teknik stratified random sampling, sampel yang dipakai sebanyak 70 subyek. Uji validitas yang dipakai adalah Pearson Product Moment, dengan jumlah item valid 60. Sedangkan uji realibilitas menggunakan Alpha Cronbach, dengan perolehan koefisien sebesar 0,972. Langkah awal dalam analisa, data dikategorikan kedalam 2 kategori yaitu positif dan negatif berdasarkan perolehan nilai mean sebesar 96, standar deviasi 23, nilai minimum 63, dan maksimum 159. Perhitungan deskriptif menggunakan perhitungan persentase. Langkah selanjutnya adalah menentukan dimensi dominan dari sikap dengan menggunakan rumus Z-score, dimana didapat kognitif sebagai dimensi dominan dari sikap. Berdasarkan analisis peneliti terhadap subjek, pada mahasiswa Fakultas Psikologi mengenai penyalahgunaan narkoba umumnya mereka lebih cenderung memiliki sikap negatif. Mahasiswa yang berusia 24 tahun memiliki sikap yang positif dan mahasiswa yang berusia 17 tahun memiliki sikap negatif. Berdasarkan pengalaman dalam menggunakan narkoba, mahasiswa yang memiliki pengalaman dalam penyalahgunaan narkoba memiliki sikap negatif daripada mahasiswa yang tidak memiliki pengalaman dalam penyalahgunaan narkoba.

Sikap Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Esa Unggul Terhadap Penyalahgunaan Narkoba

Sikap Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Esa Unggul Terhadap Penyalahgunaan Narkoba

Deskripsi:
Penelitian ini melihat sikap mahasiswa terhadap penyalahgunaan narkoba. Dengan tujuan yaitu, untuk mengetahui gambaran sikap terhadap penyalahgunaan narkoba secara umum, mengetahui gambaran sikap terhadap penyalahgunaan narkoba yang terkait dengan data penunjang, mengetahui dimensi yang lebih dominan sikap mahasiswa terhadap penyalahgunaan narkoba. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif deskriptif, dengan menggunakan bantuan kuesioner sebagai alat ukurnya. Dengan menggunakan teknik stratified random sampling, sampel yang dipakai sebanyak 70 subyek. Uji validitas yang dipakai adalah Pearson Product Moment, dengan jumlah item valid 60. Sedangkan uji realibilitas menggunakan Alpha Cronbach, dengan perolehan koefisien sebesar 0,972. Langkah awal dalam analisa, data dikategorikan kedalam 2 kategori yaitu positif dan negatif berdasarkan perolehan nilai mean sebesar 96, standar deviasi 23, nilai minimum 63, dan maksimum 159. Perhitungan deskriptif menggunakan perhitungan persentase. Langkah selanjutnya adalah menentukan dimensi dominan dari sikap dengan menggunakan rumus Z-score, dimana didapat kognitif sebagai dimensi dominan dari sikap. Berdasarkan analisis peneliti terhadap subjek, pada mahasiswa Fakultas Psikologi mengenai penyalahgunaan narkoba umumnya mereka lebih cenderung memiliki sikap negatif. Mahasiswa yang berusia 24 tahun memiliki sikap yang positif dan mahasiswa yang berusia 17 tahun memiliki sikap negatif. Berdasarkan pengalaman dalam menggunakan narkoba, mahasiswa yang memiliki pengalaman dalam penyalahgunaan narkoba memiliki sikap negatif daripada mahasiswa yang tidak memiliki pengalaman dalam penyalahgunaan narkoba.

Rabu, 08 November 2017

Rancang Bangun Sistem Informasi Absensi Dan Pendataan Pegawai Pada PT Anna Berbasis Mobile

Rancang Bangun Sistem Informasi Absensi Dan Pendataan Pegawai Pada PT Anna Berbasis Mobile

Kundang K Juman, Ir. MMSI ( 5165 )
Fakultas Ilmu Komputer Universitas Esa Unggul, Jakarta
Jl.Arjuna Utara Tol Tomang-Kebon Jeruk, Jakarta 11510

Deskripsi:
PT. ANNA memerlukan suatu sistem informasi yang dapat membantu pendataan SDM. Untuk itu tim kami akan mengembangkan Sistem Informasi Absensi Dan Pendataan Pegawai yang didasarkan pada kebutuhan PT. ANNA. Kami mengharapkan Sistem Informasi Absensi Dan Pendataan Pegawai dapat menyediakan sarana bagi PT. ANNA untuk pendataan SDM dengan tepat dan benar, dan untuk memberikan laporan yang sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya, sehingga tidak ada manipulasi data SDM. Pengembangan Sistem Informasi Absensi Dan Pendataan Pegawai akan dilakukan dengan berlandaskan pada metodologi SDLC (Systems Development Life Cycle). Metodologi tersebut terdiri dari beberapa fase pengembangan yaitu planning ,analysis, design, implementation, testing, maintenance.


Senin, 23 Januari 2017

REPRESENTASI TUBUH PEREMPUAN DALAM RUBRIK KECANTIKAN DI MAJALAH FEMINA EDISI MEI 2011

REPRESENTASI TUBUH PEREMPUAN DALAM RUBRIK KECANTIKAN DI MAJALAH FEMINA EDISI MEI 2011


1Nelly Marlianti, 1Ade Suryani
1Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Esa Unggul
Jalan Arjuna Utara Tol Tomang Kebun Jeruk, Jakarta 11510
nellymarlianti@yahoo.com


Abstrak
Tubuh perempuan, melalui berbagai macam artikel yang ada di rubrik kecantikan di majalah wanita, dikonstruksi dan direpresentasikan dengan makna yang berbeda. Tubuh perempuan dalam majalah wanita telah bergeser dari yang bersifat alamiah, menjadi bersifat bentukan.Penelitian ini menggangkat persoaalan mengenai representasi tubuh perempuan dalam majalah Femina. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis semiotik model Roland Barthes. Metode ini dipilih karena merupakan satu-satunya metode yang menggunakan penafsiran makna pesan dengan 2 tahap. Pada tahap pertama artikel dimaknai sebagai suatu yang bersifat objektif dan apa adanya, sementara pada pemaknaan tahap ke 2 makna dilihat berdasarkan pesan yang tersembunnyi di balik setiap unsur yang telah dimaknai pada analisis tahap 1. Barthes juga  menambahkan unsure mitos sebagai bagian yang juga penting untuk diamati, untuk membongkar  proses konstruksi yang dibangun oleh media bersangkutan, terhadap teks/artikel yang dibuat. Hasil dari penelitian ini menemukan bahwa, majalah Femina sebagai salah satu pelopor majalah wanita di indonsia, masih memberikan ruang bagi masukknya nilai nilai konsumtif terhadap tubuh perempuan. Tubuh perempuan dalam rubric kecantikan majalah Femina direpresentasikan sebagai tubuh yang harus selalu dirawat dan dibentuk dan dirubah bila ingin mendapatkan tubuh yang menarik. Penggunaan model perempuan sebagai representasi dari postur tubuh ideal perempuan, memberikan motivasi tersendiri bagi perempuan untuk sepakat dengan apa yang media sampaikan menggenai kecantikan tubuh. Rekomendasi-rekomendasi produk, tips-tips kecantikan, dan pusat-pusat perawatan tubuh menegaskan bahwa Femina memberikan ruang bagi proses konsumsi, dan perempuan sebagai target sasaran konsumsi tersebut.

Kata kunci: perempuan, tubuh perempuan, representasi


Pendahuluan
Sebagai salah satu bagian dari media cetak, majalah memiliki karakter tersendiri yang mampu menarik perhatian pembaca. Gaya bahasanya yang ringan, kertas glossy dan tata layout yang full colour, serta topik-topik menarik yang tersaji di dalamnya membuat banyak perempuan usia remaja dan dewasa menyukai media ini. Banyaknya jenis majalah perempuan di Indonesia, membuktikan bahwa majalah perempuan dapat diterima dengan baik oleh khalayak. Femina Group misalnya menerbitkan 12 jenis majalah wanita diantaranya; “Femina, Gadis, Ayah Bunda, Dewi, Fit, Cita Cinta, Pesona, Seventeen, Reader Diegest, Parenting, Estetica, Cleo,” (www.femina.co.id :13/6/11).
Majalah perempuan memiliki bagian rubrik yang menarik dan mampu memikat perhatian pembaca, seperti rubrik fesyen, mode, kesehatan, kecantikan, info kuliner dan wisata, serta berbagai resep makanan, minuman, dan kue. Rubrik kecantikan misalnya, memiliki daya tarik yang mampu memikat pembaca perempuan. Rangkaian tips dan info kecantikan disajikan secara detail dalam rubrik ini, begitupun dengan rangkaian foto dan gambar dari model perempuan dan perlengkapan kecantikan. Rubrik kecantikan ini pula yang mampu menginspirasi dan memotivasi pembaca perempuan untuk masuk dan menyelami informasi yang diberikan oleh majalah tersebut. Melalui majalah juga, perempuan diberikan pemaknaan dan penafsiran terhadap suatu realitas yang tersaji di dalamnya. Sama seperti berita, artikel yang dimuat oleh majalah merupakan bagian dari konstruksi atas realitas yang ada di masyarakat. Melalui artikel dan berbagai iklan yang ada di dalam majalah tersisip ideologi yang ingin disampaikan kepada pembaca. Salah satunya representasi mengenai tubuh perempuan dalam rubrikkecantikan.
Melalui rubrik kecantikan ini tubuh perempuan direpresentasikan sebagai tubuh yang harus selalu dirawat dan dimanjakan dengan produk-produk kecantikan. Rangkaian tips kecantikan lengkap dengan rekomendasi produk-produk dan perawatan kecantikan yang sesuai dengan perempuan diulas secara lengkap dengan gaya bahasa yang ringan dan memikat.
Majalah perempuan memiliki peran yang sangat besar dalam mempersepsi dan mempengaruhi pembaca mereka terhadap pola pikir pembaca perempuan terhadap tubuh yang mereka miliki. Banyaknya informasi yang ada dalam majalah mengenai kecantikan dan fesyen telah memberikan definisi yang berbeda terhadap makna tubuh yang dalam hal ini adalah tubuh perempuan. Hal ini senada dengan yang diungkapkan Halomoan, dalam Komunikasi dan Kekuasaan. Ia menyatakan bahwa representasi tubuh perempuan terdiri dari imaji-imaji. “Representasi tubuh dalam majalah wanita terdiri dari signifikasi imajiimajinya. Beberapa imaji yang bisa merepresentasikan tubuh antara lain: ras, seks, postur (langsing, gemuk, tinggi, pendek), rambut, tatapan, dan fashion. Seluruh imaji ini menandakan nilai tertentu, seperti nilai kecantikan, heteroseksualitas, kemudaan, feminitas, sampai pada nilai baik dan buruk, benar dan salah, normal dan tidak normal,” (2007:187)
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, penulis tertarik untuk meneliti mengenai representasi tubuh perempuan dalam majalah perempuan. Dalam penelitian ini penulis akan berfokus pada representasi tubuh perempuan dalam rubric kecantikan. Sementara subjek penelitian dalam kajian ini adalah majalah perempuan Femina edisi Mei 2011. Edisi Mei dipilih karena merupakan periode paling dekat dengan penelitian yang penulis lakukan. Sementara majalah Femina dipilih karena merupakan majalah perempuan dewasa yang berorientasi pada wanita dan pekerjaan mereka. Selain itu majalah Femina merupakan majalah wanita pertama di Indonesia yang sampai saat ini dapat bertahan dan berkembang di tenggah banyaknya kompetitor majalah sejenis.­
Penelitian ini mengangkat mengenai representasi tubuh perempuan dalam rubrik kecantikan pada majalah perempuan. Artikel maupun berita yang ada pada rubrik kecantikan disini tidaklah dipandang sebagai suatu yang hadir begitu saja. Ada serangkaian konstruksi yang dibangun oleh majalah wanita terhadap artikel maupun berita yang mereka sajikan. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Sementara itu metode penelitian yang cocok untuk penelitian mengenai representasi tubuh perempuan dalam majalah ini adalah analisis semiotic, di mana analisis ini berusaha mengungkapkan makna pesan dari tanda yang terlihat secara visual baik berupa gambar maupun teks. Penulis menggunakan analisis semiotic Roland Barthes untuk meneliti masalah ini.
Penelitian ini hanya menekankan perhatian pada bagaimana teks majalah dikonstruksi, yang meliputi representasi dari rekomendasi produk yang dalam hal ini merupakan produk kecantikan tubuh, berbagai make up, dan berbagai perawatan kecantikan. Selanjutnya melihat bagaimana layout mempengaruhi representasi tubuh perempuan. Terakhir teks narasi dan gambar bagaimana teks narasi ini dikonstruksi dengan mengunakan bahasa yang bagaimana, serta bagaimana gambar maupun foto-foto ditampilkan sebagai bagian pendukung yang amat penting dalam sebuah artikel di majalah.
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman baru mengenai representasi tubuh perempuan dalam media massa dewasa ini, khususnya majalah perempuan, bagaimana majalah perempuan memproduksi makna dan realitas dalam serangkaian konstruksi dan ideologi feminitas mereka. Sehingga kedepannya para pembaca, khususnya perempuan mampu memahami dan dapat berfikir kritis terhadap segala informasi yang mereka serap dari majalah perempuan terutama yang menyangkut infomasi pada rubrik kecantikan.
Konstruksi Realitas
Berita sebagai produk media tidak lahir begitu saja, berita-berita yang ada pada media massa sebenarnya merupakan hasil dari sebuah konstruksi atas realitas yang terjadi dilapangan. Istilah konstruksi sendiri lahir atas gagasan Berger danLuckman, dalam Bungin (2008:13)  konstruksi dijelaskan sebagai “Proses sosial melalui tindakan akan interaksinya, di mana individu menciptakan secara terus menerus suatu realitas yang dimiliki dan dialami bersama secara subjektif.” Realitas sendiri dalam paradigma kontruktivis dijabarkan Hidayat (dalam Bungin, 2008:11) sebagai “Konstruksi sosial yang diciptakan oleh individu namun demikian, kebenaran suatu realitas sosial bersifat nisbi. Yang berlaku sesuai konteks spesifik yang dinilai relevan oleh pelaku sosial.” Sobur, (2004:89) menjelaskan bagaimana media membangun kostruksi realitas terhadap isi media yang disampaikan kepada khalayak. “Isi media pada hakikatnya adalah hasil konstruksi realitas dengan bahasa sebagai perangkat dasarnya. Sedangkan bahasa bukan saja sebagai alat merepresentasikan realitas, namun juga bisa menentukan relief seperti apa yang akan diciptakan oleh bahasa tentang realitas tersebut. Akibatnya, media massa mempunyai peluang yang sangat besar untuk mempenggaruhi makna dan gambaran yang dihasilkan dari realitas yang dikonstruksinya.”
Sementara Eriyanto, (2006:34) menjelaskan bahwa, “Realitas merupakan kenyataan semu yang terbentuk oleh proses kekuatan sosial, ekonomi, politik. Oleh karena itu mengharapkan realitas apa adanya tidak mungkin, karena sudah tercelup kelompok ekonomi dan politik yang dominan.”
Representasi
Artikel sebagai suatu teks dibangun berdasarkan realitas yang telah terdistorsi, serta hasil dari  pertarungan beberapa kekuatan dominan. Realitas yang ada dalam konstruksi artikel ini senantiasa mengandung representasi dari suatu objek artikel itu sendiri. Representasi sendiri dalam Eriyanto (2006:113) dijelaskan bahwa “Representasi merujuk pada bagaimana seseorang, satu kelompok, gagasan, atau pendapat tertentu ditampilkan dalam pemberitaan.”
Burton, (2008:114) dalam buku yang tersembunyi dibalik media menjelaskan representasi sebagai; “Hal yang direpresentasikan adalah pandangan-pandangan tertentu dari kelompok-kelompok sosial. Pandangan-pandangan inilah yang kita pelajari secara tidak sadar untuk menerimanya sebagai normal, dan mengesampingkan pandangan-pandangan alternatif.”
Dari kedua definisi di atas penulis mengambil kesimpulan bahwa representasi merupakan upaya penggambaran seseorang, atau pandangan-pandangan tertentu, melalui media pemberitaan ataupun media massa lainnya.

Representasi Perempuan
Media sebagai agen informasi bagi khalayak tetunya juga memuat berita mengenai perempuan di samping adanya berita-berita umum. Di mana informasi yang disajikan menampilkan pengambaran sosok perempuan yang dikenal dengan istilah representasi. Penggambaraan ini tentu saja berkaitan dengan tubuh perempuan dalam majalah. Apakah tubuh perempuan ini ditampilkan secara baik atau sebaliknya secara buruk. Seperti yang diungkapkan Tuchman (dalam Gamble 2010:135) “Mengharapkan agar media memberikan representasi tentang perempuan secara akurat merupakan penyederhanaan yang berlebihan terhadap hubungan kompleks antara perempuan dan dengan media dan dengan proses-proses simbolik yang terlibat dalam representasi.”
Representasi juga melibatkan beberapa unsur untuk menggambarkan posisi perempuan di media diantaranya, pengunaan kata, kalimat, aksentualisasi, bahasa, dan foto apa yang digunakan majalah perempuan tersebut untuk mendukung realitas yang dibentuk dalam pemberitaan. Seperti yang diungkapkan Burton (2008:120) “Representasi-representasi juga dikonstruksi melalui media yang digunakan. Yang dimaksud adalah bahasa tertulis atau visual…”. Dalam sebuah penelitian mengenai representasi identitas perempuan dalam majalah, Asteria (2003: 125) mengemukakan; “Teks dalam majalah perempuan memposisikan pembaca sebagai konsumen pasif yang partisipasinya terbatas pada pilihan membeli atau tidak membeli tanpa melakukan pemikiran kritis. Kondisi ini mendorong pembaca menjadi konsumtif dalam pembelian produk, terlebih dengan mengkondisikan perempuan menjadi pembuat keputusan dalam hal konsumsi produk. Sosok perempuan modern ditampilkan dengan sosok yang menikmati dan menyenangi dalam konsumsi gaya hidup dan mengekspresikan individualitasnya.”
Berdasarkan uraian di atas mengenai representasi perempuan dapat disimpulkan bahwa media memengang kendali penting dalam mengkonstruksi yang kemudian merepresentasikan tubuh perempuan itu sendiri. Media pun memiliki kepentingan tersendiri yang dalam hal ini adalah kepentingan komersialisme dalam setiap artikel yang mereka muat. Media juga cenderung mengarahkan gambaran perempuan ke dalam pengambaran yang bersifat konsumtif.

Kecantikan
Majalah perempuan sebagai sumber informasi bagi perempuan tentunya memiliki konsep kecantikan tersendiri. Media mendefinisikan kecantikan dalam sudut pandang yang lebih provokatif dalam menunjukan konsep kecantikan. Kecantikan pada dasarnya bersifat relatif namun media memberikan konsep kecantikan yang berbeda. Media mengkonstruksi makna kecantikan itu sendiri hal ini terlihat dari beberapa artikel mengenai kecantikan, dan beberapa iklan produk kosmetik dan perawatan tubuh. Muzayin Nazaruddin dalam Media Jurnalisme dan budaya popular menggungkapkan definisi cantik menurut media “cantik adalah kurus, langsing, putih, berambut lurus hitam panjang, modis, dan selalu menjaga penampilan, serta rutin melakukan perawatan tubuh agar awet muda,” (2008:126)
Berscheid dan Walster dalam, (Synnot 2007:117) menjelaskaskan konsep kecantikan dan kekuatan makna kecantikan dalam masyarakat. “Para siswa berfikir bahwa orang-orang yang berpenampilan baik umumnya lebih sensitif, baik hati, menarik, kuat, cerdik, rapi, berjiwa sosial, ramah dan menyenangkan dari pada orangorang yang kurang baik. Para siswa juga setuju bahwa mereka yang cantik secara seksual lebih responsif dari pada mereka yang tidak menarik.”
Berdasarkan definisi konsep kecantikan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa saat ini kecantikan tidak lagi bersandar pada konsep kecantikan yang relatif di mana ukuran cantik itu sendiri berbeda satu dengan yang lainnya. Kecantikan sendiri seharusnya bersifat kultural dan geografis di mana konsep kecantikan berbeda antarnegara, antar suku bangsa, dan antar budaya. Seperti yang diungkapkan oleh Nazarudin, “Definisi tersebut meniadakan definisi-definisi kecantikan lainnya yang sanggat beragam di berbagai wilayah kebudayaan yang berbeda. Dalam budaya Jawa, rambut yang bagus adalah rambut yang ikal “ngandan-andan”. Eropa zaman pencerahan mencirikan cantik dalam kesuburan wanita, karenanya cantik zaman itu identik dengan gemuk, seperti tampak dalam lukisan Monalisa karya Da Vinci. Orang-orang Afrika mengenal konsep cantik, dan pasti bukan berkulit putih,” (2008: 126)
Senada dengan yang diungkapkan Nazaruddin, Rustandi (2007:12) menyatakan, “Di belahan benua lain, wanita cantik diilustrasikan bertubuh gemuk dan berisi. Hal ini tercermin dari gambaran Dewi Venus sebagai lambang kecantikan wanita pada zaman Yunani klasik. Dalam tradisi masyarakat Arab wanita cantik diilustrasikan berbadan gemuk dan mempunyai lipatan perut. Hal ini bisa ditemukan dalam tari perut Timur Tengah. Bahkan dalam tradisi Arab, kesuburan seorang wanita dinilai dari berisi tidaknya tubuh wanita tersebut. Pada abad ke-15 sampai abad ke-17, wanita cantik dan seksi didefinisikan dengan mereka yang memiliki perut dan panggul yang besar, serta dada yang montok, yakni bagian tubuh yang berkaitan dengan fungsi reproduksi. Pada awal abad ke-19, kecantikan didefinisikan dengan mereka yang berwajah dan berbahu bundar, serta bertubuh montok, sementara memasuki abad 20, kecantikan identik dengan wanita berbokong dan berpaha besar.”
Konsep kecantikan yang dijabarkan dalam kedua kutipan di atas merupakan konsep kecantikan yang berusaha memperlihatkan definisi kecantikan yang lebih universal. Namun konsep kecantikan yang ada saat ini adalah konsep kecantikan menurut media. Saat ini budaya masyarakat mengenai konsep kecantikan pun telah bergser akibat pengaruh konsep kecantikan media. Saat ini masyarakat cenderung setuju dengan konsep kecantikan yang media sampaikan, di mana cantik itu harus berkulit putih, bertubuh langsing, berambut panjang, bertubuh tinggi, dan sebagainya.
Dalam penelitian ini penulis merangkum konsep kecantikan menurut media saat ini, dan berdasarkan konsep kecantikan yang berkembang dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, bahwa cantik adalah perempuan yang memiliki kulit putih, berambut lurus panjang dan berwarna hitam, bertubuh langsing, berwajah oval, berhidung mancung, beralis tebal, berbulu mata lentik, bermata besar, berbibir sedang dan berwarna merah, kulit bersih dari selulit, bersih dari bulu halus, bebas dari jerawat, flek hitam, dan kerutan.
Berdasarkan penjabaran di atas mengenai kecantikan, dapat disimpulkan bahwa konsep kecantikan saat ini lebih kepada bagaimana perempuan memaknai konsep tersebut dan bagaimana perempuan berusaha membuat diri mereka cantik seperti apa yang media tafsirkan. Artinya kecantikan saat ini merupakan sesuatu yang sangat penting bagi para perempuan. Makna kecantikan saat ini mengarah pada daya tarik fisik serta bagaimana cara membuat penampilan fisik perempuan menjadi menarik dan bagaimana merawat kecantikan fisik itu sendiri.
Analisis
Berdasarkan hasil analisis teks terhadap majalah Femina edisi Mei 2011. Pada masing-masing artikel yang ada dapat disimpulkan bahwa Femina memberikan pemaknaan tubuh perempuan yang berbeda kepada para pembaca perempuannya. Ada 3 artikel dengan tema berbeda, dan masing-masing artikel terdiri dari beberapa subjudul, di antaranya My Sexy Back, Beach Babe, Ditemukan 8 Cara Jitu Tubuh Lebih Langsing. Melalui artikel-artikel inilah Femina berusaha menyampaikan pemaknaan yang berbeda terhadap tubuh perempuan.
Tubuh perempuan dalam representasi artikel pada rubrik kecantikan yang ada pada majalah Femina saat ini, tidak lagi bersandar pada sesuatu yang relatif. Femina berusaha memberikan pemahaman baru mengenai tubuh perempuan dan kecantikannya. Berdasarkan analisis teks di atas Femina berusaha menyampaikan bahwa tubuh yang cantik, tubuh yang menarik adalah tubuh perempuan yang berkulit putih, langsing, tinggi, berambut panjang, memiliki bokong yang sexy dan indah dilihat. Hal ini dapat terlihat dari representasi para model, tips kecantikan, dan rekomendasi produk yang ditampilkan dalam 3 artikel di atas. Konsep kecantikan dan representasi tubuh perempuan yang terlihat dalam majalah Femina, sesuai dengan mitos kecantikan yang berkembang di masyarakat saat ini.
Dalam Artkel My Sexy Back misalnya, pada artikel tersebut tubuh perempuan dikonstruksi sebagai tubuh yang harus terlihat seksi dan menawan. Tubuh perempuan yang dalam hal ini bokong, dikonstruksi sebagai bagian yang dapat dibanggakan oleh perempuan bila bokong perempuan tersebut terlihat seksi. Bokong yang seksi dalam artikel tersebutpun memiliki standarisasi seperti bokong yang kencang, padat dan berisi, serta terlihat menonjol. Artikel itu juga mengulas cara bagaimana mendapatkan bokong yang seksi dan menggoda, dengan mengangkat tempat maupun pusat perawatan tubuh khusus bokong. Tempat perawatan tubuh khusus bokong ini pun mengunakan bahan dan alat yang berbeda tergantung dengan tempat perawatan yang dikunjunggi. Femina berusaha memotivasi pembaca perempuan untuk membuat bokong mereka seksi dengan produk perawatan tubuh khusus bokong. Artinya bagi perempuan yang mendambakan bokong seksi dan menawan, mereka tidak perlu berandai-andai lagi. Sebab saat ini telah banyak pusat-pusat kecantikan menyedaiakan pelayanan khusus bokong agar bokong terlihat seksi.
Sama halnya dengan artikel Beach Babe, dimana artikel ini berusaha menyampaikan bahwa pantai merupakan tempat liburan yang menyenangkan dengan berbagai macam aktivitas yang dapat dilakukan, seperti berjemur, berenang, bermain di pasir, snorkeling, berselancar, dan sebagainya. Namun dalam artikel itu juga dibagun mitos bahwa perempuan harus selalu menjaga dan melindunggi kulit mereka dari pancaran sinar matahari yang dapat merubah warna kulit dan membuat kulit  menjadi kering. Hal ini sejalan dengan mitos kecantikan yang ingin dibagun bahwa perempuan cantik itu adalah perempuan yang memiliki warna kulit putih dan bersih. Hal ini dapat dilihat dari representasi 2 model perempuan yang digunakan dalam artikel tersebut. Kaum perempuan saat ini dimotivasi agar mereka merasa perubahan warna kulit menjadi gelap merupakan suatu momok yang menakutkan bahwa mereka tidak akan dapat terlihat cantik kembali. Karena itu dalam artikel tersebut dimunculkan rekomendasi produk yang sesuai dengan kondisi pantai. Penggunaan gaya bahasa yang informatif dan santai membuat teks narasi dari artikel di atas begitu mengalir dan dapat memotivasi pembaca untuk sepakat dengan isi artikel tersebut. Dimunculkannya nama produk dan label harga, dalam sub judul artikel Beach Babe10 yang wajib dimasukkan ke dalam koper mengisyratkan Femina bergerak aktif sebagai media promosi bagi para produsen produk tersebut.
Begitupun dengan 2 sub judul lainya yang ada dalam artikel tersebut juga memuat tema dan isi artikel sejenis. Dalam sub judul yang dibawa di pesawat perempuan diajak untuk mempersiapkan produk apa saja yang harus dibeli dan dibawa saat dalam perjalanan. Sementara dalam subjudul tampil percaya diri berbikini perempuan di motivasi untuk mengunakan bikini meskipun tubuh mereka tidak mulus. Dalam subjudul itu perempuan diberikan tips-tips untuk mengunakan berbagai macam perawatan sebelum memperlihatkan tubuh mereka dengan bikini.
Selulit, bulu halus di tubuh, dan kulit di sekitar payudara yang mengendur menjadi titik perhatian dari isi subjudul tersebut. Selulit, bulu halus ditubuh dan kulit disekitar payudara dikonstruksi sebagai penghambat tubuh terlihat cantik dan mulus, sehingga perempuan harus melakukan perawatan terlebih dahulu sebelum berani membuka tubuh mereka saat mengunakan bikini.
Kemudian, arikel selanjutnya Ditemukan 8 Cara Jitu Tubuh Lebih Langsing, dalam artikel tersebut tubuh perempuan direpresentasikan sebagai tubuh yang harus dijaga agar tetap langsing. Isi yang disampaikan dalam artikel tersebut mencoba memberikan rekomendasi pusat pelangsingan tubuh dengan metode yang bermacam-macam dan dengan harga yang variatif. Dalam artikel tersebut perempuan yang digunakan sebagai model tersebut merupakan peempuan dengan tubuh langsing, dan berkulit putih bersih, yang sedang asyik menikmati perawatan.  Artinya Femina ingin membangun mitos bahwa perempuan yang telah memiliki tubuh langsing pun tetap menjaga dan merawat tubuhnya agar tetap langsing, tentu bagi perempuan yang memiliki tubuh gemuk ini akan menjadi motivasi tersendiri untuk ikut menjadikan tubuh mereka langsing. Sebab konsep kecantikan yang berkembang di masyarakat saat ini adalah cantik dan tubuh indah adalah tubuh yang langsing. Tentu saja, bagi perempuan yang memiliki tubuh gemuk, artikel yang dimuat oleh Femina menjadi sumber referensi yang bermanfaat. Sebab bagi perempuan saat ini masalah berat badan yang meningkat menjadi momok yang menakutkan. Suharko, (dalam Ibrahim, 1998:334) menjabarkan hal-hal yang dapat membuat perempuan merasa resah akan tubuh mereka. “Dalam perjuangan mereka agar tetap memikat, para wanita dikesankan selalu dikejar-kejar dua momok; umur mereka dan kegemukan. Umur mereka merupakan “natural enemy” mereka yang mustahil untuk dihindari dan arena itu hanya dapat diperlambat saja. Sedangkan “kegemukan” sering menghantui mereka sebagai“habitual enemy” mereka.” Lebih lanjut dalam artikel tersebut juga terdapat nama pusat pelangsingan tubuh disertai harga per satu kali perawatan maupun paket ditampilkan dalam artikel tersebut, disertai teknik dan metode apa yang digunakan. Membuktikan bahwa artikel yang dimuat oleh Femina merupakan bentuk lain dari iklan dan ajang promosi produk perawatan tubuh perempuan.
Berdasarkan hal itulah saat ini kecantikan tubuh perempuan bukan lagi bersifat alamiah melainkan bisa dibentuk sesuai dengan situasi dan keinginan perempuan. Melalui rangkaian produk-produk perawatan tubuh, dan pusat-pusat kecantikan dan perawatan tubuh, perempuan saat ini dapat memiliki tubuh yang mereka inginkan dengan sangat mudah, tentunya hanya dengan mengelontorkan sejumlah uang untuk membiayai perawatan tersebut. Dan Femina sebagai sumber informasi bagi perempuan turut mempengaruhi perempuan pada prilaku konsumtif. Femina dalam hal ini berupaya menggiring pola pikir perempuan untuk sepakat pada apa yang Femina sampaikan dalam artikelnya. Whinship, (dalam Champion, 1998:182) menjabarkan bagaimana majalah dan iklan memberikan pemaknaan yang berbeda terhadap tubuh perempuan. “Iklan meningkatkan penciptaan sebuah kecemasan dengan efek bahwa jika wanita tidak memenuhi standar maka mereka tidak akan dicintai. Kaum wanita direkayasa untuk membenahi tubuh mereka agar menjadi sempurna dan membuat erotic sejumlah bagian tubuhnya (erotogenik) yang tidak pernah ada habisnya. Setiap wilayah sekecil apapun sekarang digarap dengan seksama; mulut, rambut, mata, kelopak mata, kuku, jari jemari, tangan, kulit, gigi, bibir, pipi, bahu, siku, lengan, kaki, telapak kaki…..Dengan gagasan bahwa kecantikan merupakan sesuatu yang dapat dicapai dan itu harus mulai dikerjakan.”
Motif tersembunyi yang Femina sampaikan dalam setiap konstruksi artkel dan konsep kecantikan yang dibangun melalui artikel-artikel yang di muat dalam rubrik kecantikan ini mengarahkan perempuan kedalam budaya konsumtif. Hal ini ditandai dengan dijadikannya tubuh perempuan sebagai objek dari praktik konsumsi. Perempuan dan tubuhnya terus menerus dijadikan sebagai objek yang mampu menghasilkan keuntungan bagi para produsen produk perawatan tubuh dan kecantikan.
Mitos-mitos kecantikan yang tersembunyi dalam setiap konstruksi artikel segaja dibangun untuk menyuburkan praktik konsumsi yang dilakukan oleh perempuan. Tubuh perempuan bukan hanya dikonstruski secara sosial, dan dieksploitasi dalam media, tetapi juga menjadi sasaran utama praktik produksi. Tubuh perempuan secara tidak sadar direkayasa sedemikian rupa oleh media sehingga permpuan menjadi termotivasi untuk melakukan tips-tips kecantikan, menyambangi rekomendasi tempat perawatan tubuh, serta membeli produk-produk kosmetik, yang tentu saja hal ini menguntungkan salah satu pihak yaitu media yang juga memiliki motif komersialisme, serta para produsen produk perawatan tubuh tersebut.
Kesimpulan
Berdasarkan uraian pada bab pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa media, yang dalam hal ini majalah perempuan Femina, melalui rubrik kecantikan yang ada memberikan pemaknaan yang berbeda terhadap tubuh perempuan. Tubuh perempuan dikonstruski secara sosial berdasarkan mitos kecantikan yang telah berkembang pada masyarakat Indonesia saat ini. Sementara tubuh perempuan direpresentasikan sebagai tubuh yang memerlukan penanganan khusus bila ingin terlihat cantik dan menarik. Penggunaan model dan rekomendasai produk yang ada pada masing-masing artikel yang dianalisis pada bagian hasil penelitian merepresentasikan bahwa tubuh perempuan harus selalu dirawat dan dijaga setiap saat. Terlihat wajar memang jika perempuan lebih menggutamakan perawatan tubuh mereka dibandingkan laki-laki. Tetapi dalam konteks penelitian ini, tubuh perempuan melalui hasil analisis pada setiap artikel tentu saja tidak dimaknai sebagai tubuh perempuan yang sewajarnya. Sebab tubuh perempuan dalam artikel tersebut telah dionstruksi sedemikian rupa sesuai dengan tema dan kebijakan dari media yang bersangkutan.
Ada dua hal penting yang dapat dijadikan kesimpulan akhir dalam penelitian menggenai representasi tubuh perempuan dalam rubrik kecantikan di majalah Femina edisi mei 2011 yaitu; pertama, tubuh perempuan tidak dimaknai sebagai tubuh yang bersifat alamiah dan kodrati yang diberikan sebagai suatu yang apa adanya oleh Tuhan. Tetapi tubuh perempuan dalam representasi artikel di atas adalah tubuh yang telah dikonstruksi dan direkayasa secara sosial sesuai dengan mitos yang ingin dibangun oleh media bersangkutan. Femina turut memberikan pemahaman yang bersandar pada nilai-nilai konstruksi mengenai konsep pemaknaan tubuh dan kecantikan. Tubuh perempuan dijadikan sebagai suatu yang dapat dirubah dan dibentuk sesuai dengan keinginan mereka. Tentu saja hal ini akan terjadi bila perempuan tersebut mengunakan beberapa perawatan tubuh. Artinya saat ini perempua dapat dengan bebas bermain dengan tubuh mereka sendiri. Tubuh perempuan dapat dibentuk sesuai dengan keinginan yang didambakan.
Kedua, tubuh perempuan dijadikan sebagai objek dan sasaran dari kegiatan konsumtif. Tubuh perempuan segaja dikonstruksi dan dibangun melalui media, dan media berusaha memberikan rangkaian rekomendasi, soslusi terhadap permasalahan tubuh perempuan dan kecantikan dengan menunjukan produk-produk perawatan tubuh, maupun pusat-pusat perwatan tubuh, dengan harga yang variatif di dalam artikel yang media buat. Femina melalui artikelnya mencoba memotivasi perempuan untuk terlihat cantik dan menarik sesuai dengan apa yang mereka sajikan dalam setiap artikel dalam rubrik kecantikannya. Sehingga perempuan hanya menjadi objek dan sasaran bagi produsen, agar mereka selalu berada pada level konsumtif.
Perempuan secara psikologis lebih mudah untuk termotivasi dan terpengaruh dibandingkan dengan laki-laki. Sehingga dalam praktik konsumsi tentulah para produsenlah yang diuntungkan. Sementara perempuan tak habis-habisnya bergelut dalam lingkaran konsumtif yang semakin lama menjadi suatu kebutuhan bahkan menjadi budaya.

Daftar Pustaka
Asteria, Donna. “Representasi Identitas Perempuan Konstruksi Kesadaran Identitas Oleh majalah perempuan, Analisis Teks Dalam Majalah Femina, Kartini, Cosmopolitan Pada Bulan April 2002”, Pasca Sarjana Kajian Wanita Universitas Indonesia, 2003.
Bungin, Burhan, “Konstruksi Sosial Media Massa”, Kencana Prenada Media Group, Jakarta 2008
Burton, Graeme, Yang Tersembunyi Dibalik Media Pengantar Kepada Kajian Media, Jalasutra, Yogyakarta 2008.
Champion, Hesty T, “Budaya Konsumen”, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta 1998,Terjemahan dari Consumer culture, Polity press, 1996
Eriyanto, “Analisis Wacana Pengantar Analisis Teks Media”, LkiS Yokyakarta,Yokyakarta 2006.
Femina Group, 2011, http://www.femina.co.id/feminagroup/default.asp (13/06/11)
Gamble, Sarah, “Pengantar Memahami Feminisme dan Postfeminisme”, Jalasutra, Yogyakarta 2010
Halomoan, Papilon, “Komunikasi & Kekuasaan”, Forum Studi Komunikasi FISIP Universitas Atma Jaya. Yogyakarta 2007.
Rustandi, Dudi. “Idealisasi Citra Wanita Cantik Dalam Iklan Televisi Sebuah Pendekatan Cultural Studies”, Observasi. edisi Menyoroti Iklan Televisi, Vol5, Tahun 2007.
Sobur, Alex, “Analisis Teks Media Suatu Pengantar Untuk Analisis Wacana,  Analisis Semiotik, dan Analisis Framing”, Remaja Rosdakarya, Bandung 2004.
Suharko, “Budaya Konsumen dan Citra Perempuan dalam Media Massa”, dalam Ibrahim, I.S dan Suranto, Hanif, Editor, Wanita dan Media Konstruksi Ideologi Gender Dalam Ruang Publik Orde Baru, Remaja Rosdakarya Bandung, Bandung, 1998.
Synnott, Anthony, “Tubuh Sosial Simbolisme, Diri, dan Masyarakat”, Jalasutra, Yokyakarta 2007.
* Jurnal tersebut diatas diterbitkan dalam Jurnal Komunikologi Vol.9 No.2 September 2012

EVENT SEBAGAI AJANG PROMOSI BAGI PERUSAHAN JASA (KASUS UNTUNG BELIUNG BRITAMA BRI)

EVENT SEBAGAI AJANG PROMOSI BAGI PERUSAHAN JASA (KASUS UNTUNG BELIUNG BRITAMA BRI)

Nurul Awaliah
Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Esa Unggul
Jalan Arjuna Utara Tol Tomang Kebun Jeruk, Jakarta 11510
nurulawaliah@yahoo.com


Abstrak
Media berpromosi bagi perusahaan sangat ditentukan oleh selektifitas pemilihan media yang tepat bagi produk yang dihasilkan dimana media yang dipilih harus dapat memberikan value bagi perusahaan baik terhadap citra perusahaan maupun citra produk. Pengetahuan calon nasabah atau pengunjung pada event tersebut sangat menentukan terhadap suksesnya media promosi tersebut untuk memunculkan minat. Dan melalui pemilihan tema yang tepat dari sebuat event akan mampu menempatkan produk dan citra perusahaan jasa terutama dalam tingkat persaingan yang semakin tinggi.

Kata kunci: pengetahuan,minat, event


Pendahuluan
Bank adalah suatu lembaga keuangan yang usaha utamanya selaku pemberi kredit serta jasa-jasa dalam lalu lintas transaksi keuangan, pembayaran dan peredaran uang. Di era globalisasi ini pertumbuhan dan perkembangan dunia perbankan semakin meningkat sehingga  persaingan antar bank pun semakin ketat. Untuk merebut persaingan antar bank, maka diperlukan kemampuan untuk memasarkan jasa-jasa yang ditawarkan kepada konsumennya.
Dalam dunia pemasaran, komunikasi merupakan salah satu aspek penting. Komunikasi berfungsi sebagai unsur yang membantu menunjang pemasaran barang, jasa, ide, maupun citra lembaga melalui berbagai saluran serta pesan-pesan yang bersifat informatif dan persuasif. Apa yang perusahaan komunikasikan hendaknya dipersiapkan dengan seksama agar sukses dan tidak didasarkan pada pertimbangan untung-untungan, dengan kata lain teknik komunikasi perusahaan harus diramu menjadi suatu komunikasi yang terkoordinasi dan konsisten.  Seperti halnya dengan Humas Bank BRI yang berusaha menyampaikan atau menginformasikan mengenai program atau produk terbaru melalui komunikasi dua arah antara pihak Bank BRI dengan masyarakat melalui kegiatan Marketing Public Relations. Salah satu program terbaru dari Bank BRI adalah program ”Untung Beliung BritAma” yang bertujuan untuk menarik nasabah baru khususnya nasabah tabungan BritAma dengan memberikan hadiah berupa mobil All New Honda CR-V serta hadiah lainnya kepada masyarakat yang membuka rekening tabungan BritAma dan memenuhi persyaratan dalam mengikuti program tersebut.
Dalam mempublikasikan program terbaru dari tabungan BritAma ini, Humas Bank BRI menggunakan berbagai macam publikasi melalui media cetak ataupun elektronik dan mengadakan event-event yang bertujuan memperkenalkan program terbaru dari Bank BRI, salah satunya adalah event Pengundian Untung Beliung BritAma ke – 9 yang akan diselenggarakan dari tanggal 18 Mei – 22 Juli di mall – mall Jakarta.
Untuk dapat menciptakan program yang dapat memenuhi keinginan dan kebutuhan konsumen, suatu bank harus dapat membina hubungan baik dengan konsumennya. Namun menghadirkan dan menawarkan program yang diminati pelanggan tidak akan efektif dan efisien, jika tidak didukung oleh komunikasi pemasaran yang terencana dengan baik dan tepat sasaran. Komunikasi pemasaran atau marketing comunication dipergunakan sebagai pendukung kegiatan penjualan dengan meyampaikan pesan atau informasi kepada khalayak sasaran mengenai produk/ program yang dikeluarkan perusahaan ke pasaran.
Kegiatan promosi yang dilakukan oleh bagian Humas Bank BRI antara lain berhubungan dengan periklanan, publikasi, event, sponsorship, pameran dan lain-lain. Kegiatan promosi yang saat ini sedang dilaksanakan oleh Humas Bank BRI adalah event Pengundian Untung Beliung BritAma, yang diadakan untuk memperkenalkan program terbaru dari Bank BRI yaitu program ”Untung Beliung BritAma”. Dimana pertengahan bulan Mei telah dilaksanakan kegiatan publikasi lainnya seperti event peluncuran program ”Untung Beliung BritAma”, karnaval Biru BritAma, event pengundian periode pertama, dan lain sebagainya.
Menurut Humas Bank BRI : Berkaitan dengan program ”Untung Beliung BritAma” yang sedang dilaksanakan di 12 kota di Indonesia, Divisi Humas PT. Bank BRI telah membuat perencanaan mengenai publikasi dari program ini. Dan ia juga mengatakan bahwa program untuk eksternal ini merupakan tugas rutin setiap dua kali dalam setahun bagi divisinya tersebut dalam menjalankan kegiatan eksternal publiknya.
Dan kegiatan tersebut bertujuan untuk memberikan informasi atau pengetahuan kepada publik mengenai program ”Untung Beliung BritAma”, dan untuk menjaring nasabah baru agar dapat tertarik terhadap program ini. Serta untuk memberitahukan pada masyarakat bahwa ada program terbaru dari Bank BRI untuk periode bulan Mei – September 2007, yang memberikan beberapa keuntungan jika mereka menjadi nasabah tabungan BritAma dan program ini bersifat pengundian kupon bagi konsumen yang sudah menjadi nasabah tabungan BritAma yang diundi setiap minggunya. Pada peluncuran bulan Mei kemarin, telah diadakan karnaval ”Untung Beliung BritAma” dan pengundian ”Untung Beliung BritAma” di Plaza Senayan dengan dimeriahkan oleh bintang tamu seperti Tompi, Arri Lasso, Shanty, dan Project Pop”.
Dari pernyataan diatas, tujuan Humas Bank BRI mengadakan acara ini adalah untuk menginformasikan program ini agar masyarakat mengetahui dan menyukai program yang ditawarkan oleh Bank BRI yang bertujuan untuk menarik nasabah baru khususnya nasabah tabungan BritAma.  Dari penjelasan Humas Bank BRI diatas, maka penulis tertarik untuk meneliti sejauhmana tingkat pengetahuan pengunjung mall dengan minat pengunjung mall untuk mengikuti program pengundian ”Untung Beliung BritAma” melalui event Pengundian Untung Beliung BritAma ke – 9, yang diselenggarakan di BSD Junction Tangerang, tanggal 13 – 22 Juli 2007 sebagai salah satu publikasi program tersebut. Jika dikaitkan dengan penelitian ini, maka pengetahuan pengunjung pada program ini diperoleh dari informasi yang disampaikan oleh MC, costumer service dan beberapa SPG (Sales Promotion Girl) yang berada disekitar area acara yang menawarkan program tersebut kepada pengunjung mall, sehingga pengunjung mengetahui dan akan mencari tahu lebih jelas mengenai kelebihan dan keuntungan dari program ”Untung Beliung BritAma”. Seperti yang dijelaskan oleh Basu Swastha dan Wawan (1990:347), ”Jika pembeli potensial tersebut menjadi berminat maka ia berusaha mengumpulkan informasi dan fakta tentang produk yang bersangkutan”. Jika mereka sudah mengetahui keuntungan dan kelebihan dari program tersebut, diharapkan akan timbul keinginan (minat) pengunjung untuk mengikuti program tersebut dengan membuka rekening dari tabungan BritAma.
Konsep-konsep yang akan dijelaskan adalah sebagai berikut : Humas, Fungsi Humas, Marketing Public Relations, Pengunjung, Pengetahuan, Minat mengikuti, Hubungan antara Pengetahuan dan Minat mengikuti Program. Penulis akan menjelaskan lebih lanjut mengenai konsep-konsep tersebut.

Hubungan Masyarakat (Humas)
Definisi Humas menurut para ahli Public Relations dalam the statement of Mexico adalah sebagai berikut : Praktik Public Relations adalah seni dan ilmu pengetahuan sosial untuk menganalisis kecenderungan, memprediksi konsekuensi-konsekuensinya, menasehati para pemimpin organisasi, dan melaksanakan program yang etrencana mengenai kegiatan-kegiatan yang melayani, baik kepentingan organisasi maupun kepentingan publik atau umum. (Rosady Ruslan, 2001:18)
Sedangkan menurut Racmadi Public Relations adalah : Salah satu bidang ilmu komunikasi praktis, yaitu penerapan ilmu komunikasi pada suatu organisasi/ perusahaan dalam pelaksanaan fungsi manajemen. PR berfungsi menumbuhkan hubungan baik antara segenap komponen pada suatu lembaga /perusahaan dalam rangka memberikan pengertian, menumbuhkan motivasi dan parisipasi. Semua itu bertujuan untuk menumbuhkan dan mengembangkan goodwill (kemauan baik) publiknya serta memperoleh opini publik yang menguntungkan (alat untuk menciptakan kerjasama berdasarkan hubungan baik dengan publik). (Rachmadi, 1994 : 7).
Dari definisi diatas penulis memahami bahwa Public Relations adalah suatu proses kegiatan atau usaha-usaha management untuk menciptakan pengertian dan kepercayaan dari publik yang lebih baik (positif) terhadap sesorang atau organisasi atau badan tertentu dengan mengadakan penelitian atau penilaian serta memberikan penerangan (informasi) yang terencana dan tersebar luas dan pada akhirnya memberikan keuntungan bagi lembaga atau perusahaan. Atau memberikan memberikan pengertian, menumbuhkan motivasi dan partisipasi. Semua itu bertujuan untuk menumbuhkan dan mengembangkan goodwill (kemauan baik) publiknya serta memperoleh opini publik yang menguntungkan.
Dalam pelaksanaannya di lapangan, DR Rex F. Harlow membagi Humas menjadi dua jenis pengertian, seperti yang dikutip oleh Rusady Ruslan :
a.    Public Relations sebagai “Method of Communication” , yaitu PR/ Humas merupakan rangakaian atau sistem kegiatan (order of system of action) melalui kegiatan komunikasi secara khas.
b.   Public Relations sebagai “State Of Being”, yaitu PR/ Humas merupakan perwujudan suatu kegiatan komunikasi yang dilembagakan ke dalam bentuk biro, Bagian, Divisi atau seksi. (Rosady Ruslan, 2001:24)
Dari pendapat diatas penulis memahami bahwa definisi Humas dibagi menjadi 2 menurut kedudukannya. Yang pertama, Humas sebagai Metode komunikasi yang khas. Humas disini belum melembaga namun memiliki kegiatan kehumasan artinya seorang Humas sebagai metode komunikasi bertugas mengefektifkan dan mengefisienkan upaya-upaya pencapaian tujuan organissi atau perusahaan. Sedangkan yang kedua, kedudukan Humas sudah berdiri sendiri (melembaga) dan memiliki bagian sendiri yang namanya berbeda-beda tergantung struktur organisasi atau lembaga tersebut. Dengan kata lain terdapat orang yang memimpin bagian tersebut yaitu pejabat Humas.
Jika dikaitkan dengan masalah pokok penelitian, maka kedudukan Humas Bank BRI belum melembaga (method of comunications) karena Humas Bank BRI berada dibawah Divisi Sekretariat Perusahaan Bank BRI. Dari berbagai batasan Humas diatas dapat ditarik konsep bahwa untuk memahami dan mengevaluasi berbagai opini publik atau isu publik yang berkembang terhadap suatu perusahaan/ organisasi. Dalam kegiatannya Humas memberi masukan dan nasihat terhadap berbagai kebijakan manajemen yang berhubungan dengan opini atau isu publik yang tengah berkembang. Dalam pelaksanaannya PR menggunakan komunikasi untuk memberitahu, mempengaruhi dan mengubah pengetahuan, sikap dan prilaku publik sasarannya. Hasil yang ingin dicapai dalam kegiatan Humas pada intinya adalah good image (citra baik), goodwill (itikad baik), mutual understanding (saling pengertian), mutual confidence (saling mempercayai), mutual appreciation (saling menghargai) dan tolerance (toleransi).

Fungsi Humas
Berbicara mengenai fungsi dan tugas Humas yang mempunyai ciri khas, dan menurut pakar Humas Internasional Cutlip, Center dan Canfield fungsi Humas/PR dapat meliputi hal-hal berikut :
  1. Menunjang kegiatan manajemen dan mencapai tujuan organisasi.
  2. Menciptakan komunikasi dua arah secara timbal balik dengan menyebarkan informasi dari perusahaan kepada publik dan menyalurkan opini publik pada perusahaan.
  3. Melayani publik dan memberikan nasihat kepada pimpinan organisasi untuk kepentingan umum.
  4. Membina hubungan secara harmonis antara organisasi dan publik, baik internal maupun eksternal. (Frida K, 2002 : 23)
Fungsi Humas juga dapat dilihat dari deskripsi kerja Carl Byoir & Associates, sebuah konsultan atau agency PR, meliputi sebagai berikut.
a)       Analysis…of policies and objectives of the client…of relationships with various public…
b)       Planning and programming…of specific undertaking and projects…
c)        Implementation…of the programs and project.
Jika dipertanyakan “apa sebenarnya fungsi PR/ Humas itu?” dikatakan, PR/ Humas tersebut berfungsi jika menunjukkan suatu kegiatan yang jelas dan khas serta dapat dibedakan dengan kegiatan yang lain.
Dalam penelitian ini salah satu tugas dan tanggung jawab Humas Bank BRI adalah mengadakan kegiatan-kegiatan dengan pihak internal dan pihak eksternal Bank BRI dan membina hubungan yang harmonis dengan para nasabah. Dari tugas itu maka Humas Bank BRI membuat program ”Untung Beliung BritAma” yang bertujuan menarik konsumen dengan target konsumen sebanyak 500 nasabah baru dalam setahun. Dengan menciptakan komunikasi dua arah kepada konsumen, maka Humas Bank BRI dapat membina hubungan yang baik dengan para nasabahnya atau calon nasabahnya. Jika dikaitkan dengan masalah pokok penelitian sasaran utama dari program ini adalah pengunjung BSD Junction Tangerang yang belum menjadi nasabah BRI. Bank BRI berupaya untuk menarik minat pengunjung mall untuk menjadi nasabah BRI khususnya tabungan BritAma melalui beberapa kegiatan publikasi dan salah satu acaranya adalah event Pengundian Untung Beliung BritAma ke – 9 pada tanggal 13 – 22 Juli 2007 yang diselenggarakan di BSD Junction Tangerang.
Marketing Public Relations
Memasuki era globalisasi pada abad ke 21 yang sangat kompetitif itu dimulai sejak tahun 1990-an dimana untuk pertama kali mucul suatu konsep perpaduan antara ”kekuatan PR dan ”Marketing Mix” dari konsep Philip Kotler, yakni dikenal dengan megamarketing. Kemudian muncul lagi istilah marketing Public Relation (MPR), sebagai pengembangan tahap berikutnya dari konsep sebelumnya (megamarketing) yang dipopulerkan Thomas L. Harris melalui bukunya berjudul The Marketer’s Guide to Public Relations dengan konsepsi sebagai berikut:
Marketing Public Relations merupakan suatu proses perencanaan, pelaksanaan dan pengevaluasian program-program yang dapat merangsang pembelian dan kepuasan konsumen melalui komunikasi mengenai informasi yang dapat dipercaya dan melalui kesan-kesan positif yang ditimbulkan dan berkaitan dengan identitas perusahaan atau produknya sesuai dengan kebutuhan, keinginan, perhatian dan kepentingan bagi para konsumennya. (Soleh Soemirat, 2004:154)
Dari penjelasan diatas penulis memahami bahwa Marketing PR adalah proses pelaksanaan yang dapat mempengaruhi pembelian dan kepuasan konsumen terkait dengan informasi yang dipercaya dan kesan-kesan yang positif mengenai identitas perusahaan atau produk dari perusahaan yang disesuaikan dengan kebutuhan, keinginan, perhatian dan kepentingan untuk para konsumen.
Untuk mendukung pemasaran produk, Philip Kotler (2003:618) menjelaskan mengenai kegiatan Marketing PR yang dapat dilakukan oleh sebuah perusahaan, dan diantaranya adalah :
a. Publikasi : suatu kegiatan untuk mempromosikan suatu produk/ jasa melalui media cetak maupun elektronik. Bentuk publikasi yang di maksud adalah laporan tahunan, brosur, artikel, majalah, koran, serta materi audio visual.
b. Event : perusahaan dapat mengadakan suatu event untuk menginformasikan tentang produk atau kegiatan perusahaan tersebut melalui konferensi, seminar, outings, pameran dagang,  pameran, perlombaan, pertandingan serta perayaan-perayaan perusahaan lainnya.
c. Sponsorship : perusahaan dapat mempromosikan produk atau perusahaannya dengan mensponsori suatu kegiatan.
d. Media informasi perusahaan : merupakan salah satu usaha komunikasi pemasaran dan mencakup semua elemen identitas perusahaan, biasanya dibuat dalam bentuk logo perusahaan, alat-alat tulis, brosur, simbol, formulir bisnis, kartu nama, gedung kantor dan seragam.
Dari berbagai kegiatan Marketing PR yang dijelaskan diatas, kegiatan yang digunakan oleh Bank BRI untuk memperkenalkan program baru dari produk tabungan BritAma adalah melalui publikasi media cetak dan elektronik, serta kegiatan promosi yang diselenggarakan di seluruh kota besar di Indonesia. Dengan tujuan agar masyarakat mengetahui program yang sedang diluncurkan oleh Humas Bank BRI. Sebagai suatu kegiatan, Humas harus direncanakan untuk menciptakan, mengembangkan, menjaga, maupun mempertahankan citra dari sebuah organisasi maupun lembaga. Ini mencerminkan soft selling, karena yang ingin dicapai adalah hal-hal positif dari kooporasi dan citra produk tidak mungkin terpisahkan, melainkan saling berkaitan dan saling mempengaruhi.
Jika dikaitkan dengan penelitian dalam skripsi ini adalah kegiatan Marketing Public Relations yang dilakukan oleh Humas Bank BRI adalah publikasi Program ”Untung Beliung Britama” yang bertujuan untuk menarik nasabah baru dari tabungan BritAma.
Program ”Untung Beliung BritAma” itu sendiri sudah mulai dipublikasikan melalui media iklan di TV, radio, koran, poster pada pertengahan bulan Mei 2007, dan kegiatan promosi lainnya seperti Karnaval Biru BRI di 12 kota di Indonesia, BRI Spektakuler di Trans TV, dan acara pengundian pemenang di mall-mall terkenal di 12 kota besar tujuan penyelenggaraan di Indonesia, salah satunya adalah event Pengundian Untung Beliung BritAma yang diselenggarakan pada tanggal 13 – 22 Juli 2007 di BSD Junction Tangerang. Dengan sasaran konsumennya adalah yang pengunjung yang datang dan melihat event tersebut.
Diharapkan dari program ini akan membangun citra positif dari masyarakat pada Bank BRI dan memberikan pelayanan dan kepuasan konsumen dari fasilitas perbankan yang memberikan kemudahan dan keuntungan untuk pada nasabah Bank BRI.

Pengunjung
W. J. S Poerwadarminta (1998:583) berpendapat bahwa pengunjung adalah, ”orang yang mengunjungi”. Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia (1996:740) mengunjungi adalah, ”mendatangi untuk menjumpai (menengok, melawat)”. Penulis menyimpulkan bahwa pengunjung adalah seorang individu yang melakukan kunjungan kesuatu tempat untuk bertemu, melihat sesuatu. Adapun mengenai tujuan pengunjung untuk mengunjungi kesuatu tempat karena adanya kebutuhan individu, seperti yang dijelaskan oleh James W. Tankard dan Werner J Severin (1992:273) mengenai kebutuhan individu adalah sbb:
  1. 1.       Cognitive needs (acquiring information, knowledge and understanding)
  2. 2.       Affective needs (emotional, pleasure, or aesthetic experience)
  3. 3.       Personal integrative needs (strengthening credibility, confidence, stability, and status)
  4. 4.       Social integrative needs (strengthening contacts with family, friends, etc)
  5. 5.       Tension release needs (escape and diversion)
Penulis mencoba menterjemahkan bahwa kebutuhan individu terdiri dari kebutuhan untuk mendapatkan informasi, pengetahuan, dan pengertian, kebutuhan untuk memenuhi tuntutan emosi, kesenangan, dan pengalaman estetik, kebutuhan yang bertujuan memperkuat kredibilitas pribadi, kepercayaan, stabilitas dan status, kebutuhan yang bertujuan memperkuat hubungan dengan keluarga, teman dan yang lainnya.
Bila dikaitkan dengan masalah penelitian maka pengunjung adalah seseorang atau konsumen yang berkunjung ke mall / pusat perbelanjaan, untuk memenuhi kebutuhan mereka yaitu untuk memenuhi tuntutan emosi, kesenangan dan pengalaman  estetik dll. Kemudian mereka mendatangi (suatu tempat) stand event Pengundian Untung Beliung BritAma untuk memenuhi kebutuhan mereka dalam memenuhi kebutuhan afektif yaitu kebutuhan dari tuntutan emosi, kesenangan dalam melihat hiburan, dan pengalaman estetik.
Maksud kedatangan pengunjung ke acara Pengundian Untung Beliung BritAma adalah untuk melihat sesuatu, yakni acara hiburan yang disajikan oleh pihak Bank BRI untuk program ”Untung Beliung BritAma”. Namun, kedatangan mereka tidak hanya untuk melihat-lihat saja, tapi mereka ingin mengetahui lebih banyak tentang keuntungan program ”Untung Beliung BritAma” dan semua informasi yang berkaitan dengan Tabungan BritAma. Informasi yang dibutuhkan pengunjung tentang program tersebut dapat ditanyakan kepada costumer service/ SPG yang berada di area acara.

Tingkat Pengetahuan
Mengenai pengetahuan konsumen, mengapa memahami pengetahuan konsumen penting bagi pemasar? Karena apa yang dibeli, berapa banyak yang dibeli, dimana membeli, dan kapan membeli, akan tergantung kepada pengetahuan konsumen mengenai hal-hal tersebut. Pengetahuan konsumen akan mempengaruhi keputusan pembelian. Ketika konsumen memiliki pengetahuan yang lebih banyak, maka ia akan lebih baik dalam mengambil keputusan, ia akan lebih efisien dan lebih tepat dalam mengolah informasi dan mampu me-recall informasi dengan lebih baik. (Sumarwan, 2003:119)
Mowen dan Minor mendefinisikan sebagai ”the amount of experience wit and information about particular products or services a person has “. Engel, Blackwell dan Miniard mengartikan “at a general level, knowledge can be defined as the information stored within memory. The subset of total information relevant to consumers functioning in the marketplace is called consumer knowledge”. (Sumarwan, 2003:119).
Dari definisi diatas dapat diartikan bahwa pengetahuan konsumen adalah semua informasi yang dimiliki konsumen mengenai berbagai macam produk dan jasa, serta pengetahuan lainnya yang terkait dengan produk dan jasa tersebut dan informasi yang berhubungan dengan fungsinya sebagai konsumen.
Sedangkan pengetahuan menurut kamus besar bahasa Indonesia (1989:991) adalah : segala sesuatu yang diketahui, kepandaian, segala sesuatu yang diketahui berkenaan dengan hal (mata pelajaran). Selanjutnya Jujun S. Sumantri (1984:104) berpendapat bahwa : Pengetahuan pada hakekatnya merupakan segenap yang kita ketahui tentang suatu objek tertentu., Berdasarkan kedua pendapat diatas, pengetahuan pada hakekatnya merupakan segenap apa yang kita ketahui tentang suatu objek tertentu. Pengetahuan merupakan suatu proses dimana seseorang yang tidak tahu menjadi tahu sehingga pada akhirnya pengetahuan mempunyai pengertian sebagai berikut; yaitu kumpulan dari apa saja yang kita ketahui.
Lebih lanjut para ahli psikologi kognitif membagi penget ahuan ke dalam pengetahuan deklaratif (declaratif knowledge) adalah fakta subjektif yang diketahui oleh seseorang, arti subjektif disini adalah pengetahuan seseorang tersebut mungkin tidak selalu harus sesuai dengan realitas yang sebenarnya. Sedangkan pengetahuan prosedur (procedur knowledge) ialah pengetahuan mengenai bagaimana fakta-fakta tersebut digunakan. (Sumarwan, 2003:120).
Penulis memahami pendapat diatas bahwa pengetahuan deklaratif ialah informasi yang umum diketahui konsumen contohnya konsumen mengetahui adanya event Pengundian Untung Beliung BritAma di BSD JunctionTangerang karenapublikasi melalui iklan, media cetak ataupun elektronik, sedangkan pengetahuan prosedur ialah pengetahuan konsumen mengenai informasi yang terkait dengan prosedur atau ketentuan – ketentuan mengenai program ”Untung Beliung BritAma”
Lalu menurut Soerjono Soekanto (1982:6) mengemukakan bahwa, ”pengetahuan adalah kesan didalam pikiran manusia sebagai hasil penggunaan panca indranya”. Dari uraian-uraian mengenai pengertian pengetahuan diatas, maka penulis menyimpulkan bahwa pengetahuan adalah :
  1. segala sesuatu yang diketahui mengenai sesuatu objek tertentu atau hal apa saja
  2. sebagai hasil dari tahu
  3. merupakan kesan didalam pikiran manusia sebagai hasil penggunaan panca indra.
Selanjutnya menurut Jalaludin Rakmat (2001:219): ”Efek kognitif terjadi bila ada perubahan pada apa yang diketahui, dipahami, atau dipersepsikan khalayak. Dan efek ini berkaitan dengan transmisi pengetahuan, keterlampilan, kepercayaan atau informasi”.
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa efek kognitif berhubungan dengan pengetahuan, informasi, kepercayaan dan keterlampilan. Pada diri manusia akan terjadi bila ada perubahan pada apa yang diketahui, dipahami, dipersepsikan khalayak. Efek ini terjadi dikarenakan ada transmisi pengetahuan, keterlampilan, kepercayaan atau informasi yang dalam hal ini ditransmisikan melalui event BRI Untung Beliung BritAma.
Dengan demikian jika dikaitkan dengan rumusan masalah pokok skripsi, ketika pengunjung mall mengamati eventPengundian Untung Beliung BritAma terjadi efek kognitif yang saling bertautan yaitu pengetahuan dan pemahaman pengunjung mall terhadap event tersebut. Maka secara operasional yang dimaksud dengan tingkat pengetahuan adalah perbedaan tinggi rendahnya kepandaian atau yang diketahui oleh pengunjung BSD JunctionTangerang terhadap event BRI Untung Beliung BritAma. Untuk dapat mengetahui tingkat pengetahuan pengunjung mall mengenai program ”Untung Beliung BritAma” penulis menetapkan unsur-unsur tingkat pengetahuan pengunjung yaitu :
  1. Mengetahui nama event Bank BRI
  2. Mengetahui keuntungan dari tabungan Britama
  3. Mengetahui hadiah utama yang diberikan pada pemenang
  4. Mengetahui periode program ”Untung Beliung Britama” diselenggarakan
  5. Mengetahui syarat dan ketentuan mengikuti program”Untung Beliung BritAma
  6. Mengetahui saldo tabungan untuk mengikuti program ”Untung Beliung BritAma”.

Minat Mengikuti
Setelah adanya pengetahuan dalam diri konsumen terhadap program tersebut,  maka diharapkan akan timbul minat untuk mengikuti program tersebut dengan menjadi nasabah Bank BRI khususnya tabungan BritAma.
Menurut Kamus besar B. Indonesia (1996:899), minat adalah Perhatian; keinginan untuk memperhatikan atau melakukan sesuatu – berminat, mau, suka, ingin, akan sesuatu.
Dari definisi diatas, penulis menyimpulkan bahwa minat adalah sesuatu yang menarik perhatian dan keinginan untuk melakukan sesuatu.
Selanjutnya Kartini Kartono (2002:255) menjelaskan, ”Minat adalah perasaan yang menyatakan bahwa satu aktivitas, pekerjaan atau objek itu berharga atau berarti bagi individu. Satu keadaan motivasi, atau suatu motivasi yang menuntun tingkah laku menuju satu arah (sasaran) tertentu. Penulis menyimpulkan bahwa minat adalah sebuah  perasaan yang menyatakan bahwa suatu aktivitas atau pekerjaan adalah objek yang berharga bagi individu atau suatu motivasi yang mengarahkan manusia menuju satu arah tertentu.
Jika dikaitkan dengan penelitian ini maka minat yang dimaksud adalah suatu motivasi yang menuntun sikap atau tingkah laku pengunjung untuk berminat pada program ”Untung Beliung BritAma” sehingga pengunjung ingin membuka rekening tabungan BritAma.
Jika dihubungkan dengan masalah pokok penelitian, maka minat adalah peristiwa/ kejadian pada saat pengunjung datang ke acara Pengundian Untung Beliung BritAma di BSD Junction dan pengunjung berkeinginan untuk melihat/ mengamati acara tersebut lebih dekat secara terus menerus. Keinginan untuk mengetahui acara tersebut lebih detail dipengaruhi oleh perasaan emosional atau ego pengunjung mall, melalui prilaku (bertanya kepada costumer service tentang informasi yang berkaitan dengan program yang ditawarkan).
Apabila informasi yang diberikan costumer service dapat meyakinkan pengunjung dan program yang ditawarkan sesuai dengan keinginan dan kebutuhan pengunjung, maka pengunjung akan memiliki minat untuk mengikuti program tersebut dengan membuka rekening dari tabungan BritAma.
Selanjutnya Basu Swastha dan Wawan (1990:347) berpendapat, ”minat, jika pembeli potensial tersebut menjadi berminat maka ia berusaha mengumpulkan informasi dan fakta tentang produk yang bersangkutan”.
Dari pengertian diatas dapat dipahami bahwa, jika seserang berminat membeli suatu produk maka ia akan berusaha untuk mencari informasi dan kenyataan yang sebenarnya tentang produk (program) yang ia minati.
Lebih lanjut, Riyono Pratikto (1987:28) menjelaskan tentang timbulnya minat, yang timbul bilamana ada unsur-unsur :
1. tersedianya suatu hal yang menarik minat
2. terdapat kontras, yaitu perbedaan antara hal yang baru dengan yang lainnya, sehingga apa yang menonjol itu menumbuhkan perhatian
3. terdapat harapan untuk mendapat keuntungan atau mungkin gangguan dari hal yang dimaksud.
Jadi menurut pemahaman penulis, minat mengikuti dapat diartikan sebagai keinginan untuk memperoleh sesuatu yang didorong ke arah yang khusus, dan keuntungan yang akan diperoleh jika mengikuti program tersebut. Informasi tentang program ”Untung Beliung BritAma” dapat ditanyakan melalui costumer service/ SPG yang berada di sekitar area acara berlangsung atau informasi yang disampaikan oleh MC dari acara tersebut.
Selain itu pengunjung yang berminat mengikuti program tersebut karena pengunjung merasa mempunyai peluang yang besar untuk mendapatkan hadiah utama atau hadiah lainnya.
Dari keterangan atau penjabaran diatas, diperoleh unsur – unsur yang mempengaruhi minat pengunjung mall untuk mengikuti program ”Untung Beliung BritAma” adalah sebagai berikut:
  1. Ingin mencari informasi mengenai Program ”Untung Beliung BritAma”.
  2. Ingin membuka rekening dari tabungan BritAma.
  3. Ingin mengikuti persyaratan dari program ”Untung Beliung BritAma”
  4. Ingin meningkatkan saldo tabungan agar mendapat peluang menang
  5. Ingin menggunakan fasilitas kemudahan perbankan dari tabungan Britama
  6. Ingin memilih tabungan BritAma karena memiliki banyak keuntungan.

Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan Pengunjung Mall Dengan Minat Mengikuti Program ”Untung Beliung BritAma”
Untuk mengambarkan hubungan antara tingkat pengetahuan pengunjung mall dengan minat mengikuti program ”Untung Beliung BritAma” penulis menggunakan model ”Hirarki Efek” yang digambarkan oleh Sasa Djuarsa, (1999:46). Aspek / tahap Model AIDDA (Attention, Interest, Desire,Decision, Action). Pada penjelasan diatas penulis menggunakan model hirarki efek dan penulis  membatasinya sampai dengan tingkat afektif (menyukai/ berminat), karena konsumen yang berminat mengikuti program ”Untung Beliung Britama” secara otomatis konsumen sudah menjadi nasabah Bank BRI, dengan membuka rekening tabungan BritAma (tingkat konatif) karena salah satu syarat mengikuti program tersebut adalah dengan membuka rekening dari tabungan BritAma.
Jika dikaitkan dengan masalah penelitian maka pada tingkat kognitif yaitu pengetahuan pengunjung pada eventPengundian Untung Beliung BritAma, jika pengunjung telah mengetahui keuntungan dari program tersebut maka selanjutnya akan timbul minat (tingkat afektif) dalam diri responden untuk mengikuti program tersebut. Berkaitan dengan hubungan antar variabel yaitu tingkat pengetahuan dan minat pengunjung, maka penulis menjabarkan mengenai pendekatan efek komunikasi. Menurut Jalaludin Rakhmat (2001:219):
Efek kognitif terjadi bila ada perubahan pada apa yang diketahui, dipahami dan dipersepsikan khalayak. Efek ini berkaitan dengan transmisi pengetahuan, keterlampilan, kepercayaan atau informasi. Efek afektif timbul bila ada perubahan pada apa yang dirasakan, disenangi atau dibenci khalayak. Efek ini ada hubungannya dengan emosi, sikap, nilai. Efek behavioral merujuk pada prilaku nyata yang dapat diamati meliputi pola-pola tindakan, kegiatan atau kebiasaan berprilaku.
Dari pengetian diatas penulis menyimpulkan efek komunikasi adalah sebagai berikut :
-     Efek kognitif berhubungan dengan pengetahuan, informasi, kepercayaan dan keterlampilan. Terjadi bila ada perubahan pada apa yang diketahui, dipahami, dipersepsikan khalayak.
-     Efek afektif berhubungan dengan emosi, sikap dan nilai. Terjadi bila ada perubahan pada apa yang dirasakan, disenangi atau dibenci khalayak. – Efek behavioral berhubungan dengan perilaku nyata yang dapat diamati seperti tingkah laku, tindakan dan kebiasaan.
Dan kegiatan tersebut bertujuan untuk memberikan informasi atau pengetahuan kepada publik mengenai program ”Untung Beliung BritAma”, dan untuk menjaring nasabah baru agar dapat tertarik terhadap program ini. Serta untuk memberitahukan pada masyarakat bahwa ada program terbaru dari Bank BRI untuk periode bulan Mei – September 2007, yang memberikan beberapa keuntungan jika mereka menjadi nasabah tabungan BritAma dan program ini bersifat pengundian kupon bagi konsumen yang sudah menjadi nasabah tabungan BritAma yang diundi setiap minggunya.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan pengunjung mall dengan minat mengikuti program ”Untung Beliung BritAma”.

Hasil dan Pembahasan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden (67,5 %) memiliki tingkat pengetahuan mengenai program ”Untung Beliung BritAma” adalah tinggi. Walaupun responden berjenis kelamin, usia, pendidikan dan pekerjaan yang berbeda, tetapi pengetahuan responden tinggi terhadap program ”Untung Beliung BritAma”.
Pengetahuan responden memperoleh nilai yang tinggi sebanyak 67,5% di duga karena responden memperoleh banyaknya publikasi informasi mengenai program”Untung Beliung BritAma”. Pada awal bulan Mei informasi tersebut telah dipublikasikan melalui media cetak dan media elektronik. Jadi, kemungkinan responden yang memiliki pengetahuan tinggi, karena responden telah mengetahui banyak informasi terkait dengan program tersebut melalui media cetak dan elektronik dan diduga responden memperoleh pengetahuan dari infomasi yang disampaikan MC dan penjelasan dari SPG dan Customer Service.
Selain itu, seperti yang dikatakan oleh Sumarwan, (2003:119) bahwa pengetahuan konsumen akan mempengaruhi keputusan pembelian. Ketika konsumen memiliki pengetahuan yang lebih banyak, maka ia akan lebih baik dalam mengambil keputusan, ia akan lebih efisien dan lebih tepat dalam mengolah informasi dan mampu me-recallinformasi dengan lebih baik.
Lebih lanjut Basu Swastha dan Wawan (1990:347),  mengatakan ”Jika pembeli potensial tersebut menjadi berminat maka ia berusaha mengumpulkan informasi dan fakta tentang produk yang bersangkutan”. Dari keterangan diatas, bahwa jika seseorang berminat akan sesuatu hal, maka  ia akan mencari atau mengumpulkan informasi dan fakta tentang sesuatu hal tersebut dan pengetahuan mereka akan mempengaruhi keputusan mereka untuk membeli (membuka rekening tabungan BritAma).
Jadi sebagian besar (67,5 %) pengetahuan responden terhadap program ”Untung Beliung BritAma” tinggi, di duga karena banyaknya informasi yang responden peroleh mengenai program ”untung Beliung BritAma” dan responden yang berminat dengan program tersebut akan mencari informasi dan fakta untuk memenuhi kebutuhan informasinya.
Selanjunya hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar (55 %) minat  responden terhadap program ”Untung Beliung BritAma” adalah tinggi dipengaruhi oleh suatu hal yang menarik minat, adanya perbedaan hal yang baru dan adanya harapan untuk mendapatkan keuntungan.
Hasil penelitian tersebut di duga karena penjelasan dari SPG dan Customer Service yang dapat meyakinkan responden untuk mengikuti program Untung Beliung BritAma dengan membuka rekening tabungan BritAma. Selain itu minat responden di duga adanya harapan mereka untuk mendapatkan hadiah dari program tersebut serta mendapatkan souvenir cantik dari customer service untuk responden yang membuka rekening tabungan BritAma.
Selain itu minat mereka mengikuti program tersebut di duga karena pembukaan rekening tabungan BritAma hanya sebesar 200 ribu lebih murah dibandingkan jika mereka membuka rekening tabungan BritAma di kantor-kantor cabang atau cabang Bank BRI sebesar 500 ribu. Oleh karena hal tersebut, maka sebagian responden lebih memilih membuka tabungan BritAma pada acara tersebut dibandingkan dengan membuka tabungan di cabang Bank BRI.
Terkait dengan minat responden terhadap program ”Untung Beliung BritAma, seperti yang dijelaskan oleh Riyono Pratikno (1987:28) mengenai timbulnya minat:
1.    Tersedianya suatu hal yang menarik minat
2.    Terdapat kontras, yaitu perbedaan antara hal yang baru dengan yang lainnya, sehingga apa yang menonjol itu menumbuhkan perhatian
3.    Terdapat harapan untuk mendapat keuntungan atau mungkin gangguan dari hal yang dimaksud.
Dari pendapat diatas bahwa responden yang memiliki minat tinggi di duga  karena adanya hal yang menarik minat mereka yaitu program ”Untung Beliung BritAma” itu sendiri, lalu adanya perbedaan hal yang baru terkait dengan program terbaru dari Bank BRI untuk para nasabahnya, serta di duga terdapat harapan untuk mendapatkan keuntungan dari tabungan BritAma dan harapan mendapatkan hadiah dari program tersebut.
Dapat disimpulkan bahwa minat responden tinggi disebabkan di duga karena penjelasan dari SPG dan customer service mengenai program tersebut dapat meyakinkan responden untuk mengikuti program tersebut, serta adanya harapan responden untuk mendapatkan hadiah utama dan mendapatkan banyak keuntungan dari tabungan BritAma.
Berdasarkan hasil penelitian tentang hubungan antara tingkat pengetahuan responden dengan minat mengikuti program ”Untung Beliung BritAma”, dapat diketahui bahwa terdapat kecendrungan hubungan antara tingkat pengetahuan dengan minat mengikuti program ”Untung Beliung BritAma”. Di duga karena responden yang telah mengetahui informasi mengenai program Untung Beliung BritAma banyak yang berminat untuk membuka rekening tabungan BritAma. Dan responden mempunyai harapan untuk mendapatkan hadiah dari program tersebut. Jalaludin Rakmat (2001:219) menjelaskan bahwa : ”Efek kognitif terjadi bila ada perubahan pada apa yang diketahui, dipahami dan dipersepsikan khalayak. Efek ini berkaitan dengan transmisi pengetahuan, keterlampilan, kepercayaan atau informasi. Efek afektif timbul bila ada perubahan pada apa yang dirasakan, disenangi atau dibenci khalayak”. Efek ini ada hubungannya dengan emosi, sikap, nilai.
Dapat disimpulkan bahwa pengetahuan responden berhubungan dengan minat mengikuti program karena di duga responden mengetahui banyak informasi yang diterima panca indera mereka tentang keuntungan dari program ”Untung Beliung   BritAma” dan mengetahui bahwa tabungan BritAma akan memberikan banyak keuntungan kepada mereka. Efek kognitif yang berasal dari informasi yang diterima dan efek afektif timbul dari sikap, perasaan dan emosional responden yaitu responden tertarik dengan program ”Untung Beliung BritAma” dan berminat dengan program tersebut.
Kesimpulan
Dari keseluruhan data yang telah penulis jelaskan, penulis dapat menarik suatu kesimpulan sebagai berikut: Berdasarkan klasifikasi data responden menurut jenis kelamin, responden yang berpartisipasi lebih banyak berjenis kelamin wanita, yaitu berjumlah 26 orang atau sekitar 65 %. Berdasarkan klasifikasi data responden menurut usia, responden yang berpartisipasi lebih banyak memiliki rentan usia antara 25 – 32 tahun dengan jumlah responden sebanyak 18 orang (45 %). Berdasarkan klasifikasi data responden menurut tingkat pendidikan, diperoleh lebih banyak responden yang memiliki tingkat pendidikan sarjana yaitu sebanyak 14 orang atau sekitar 35 %.
Berdasarkan hasil penelitian dari tingkat pengetahuan responden, didapat bahwa responden yang menjadi objek penelitian memiliki tingkat pengetahuan tinggi yaitu sebesar 67,5 % atau sekitar 27 orang. Berdasarkan hasil penelitian dari minat mengikuti program “Untung Beliung BritAma”, didapat bahwa responden memiliki minat yang tinggi untuk mengikuti program yaitu sebanyak 55 % atau sekitar 22 orang.
Berdasarkan hasil analisis penelitian mengenai hubungan antara tingkat pengetahuan dengan minat mengikuti program yang menggunakan rumus product moment, dapat dilihat bahwa terdapat hubungan yang cukup berarti sebesar 0,685 karena nilai tersebut berada diantara nilai interval koefisien yaitu 0,200 – 0,700. (Kriyantono, 2006:169)
Dari penjelasan mengenai kesimpulan diatas, dapat dikatakan bahwa melalui event pengundian Untung Beliung BritAma ke – 9 terbukti dapat memberikan informasi atau pengetahuan kepada pengunjung mall mengenai program “Untung Beliung BritAma” dan dapat menarik minat pengunjung BSD Junction Tangerang sebagai objek penelitian untuk mengikuti program tersebut.

Daftar Pustaka
Badudu, JS, Prof & Muhammad Zein, “Kamus Umum Bahasa Indonesia, Pustaka Sinar harapan, anggota IKAPI, Jakarta, 1996.
Chaplin, JP ; Kartini Kartono, Dr, “Kamus Lengkap Psikologi”, PT. RajaGrafindo, Jakarta, 2002
Hasan, Iqbal, M, “Pokok – Pokok Materi Metodologi Penelitian dan Aplikasi”, Ghalia Indonesia, Jakarta, 2002.
Kusumastuti, Frida, “Dasar-dasar Humas”, PT. Ghalia Indonesia dan UMM PRESS”, Jakarta Selatan, 2002
Kotler, Philip, “Advertising Management”, 10th Edition, Prentice Hall, New York, 2003.
Kriyantono, Rakhmat, “Teknik Praktis Riset Komunikasi”, Kencana Prenada media Grup, Jakarta, 2006.
Ruslan, Rosady, “Manajemen Humas dan Manajemen Komunikasi”, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2001
Rachmadi, F, “Public Relations Dalam Teori Dan Praktek”, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1994
Rakhmat Jalaludin, “Psikologi Komunikasi, Edisi Revisi”, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 2001
Sendjaja, Sasa Djuarsa, “Pengantar Komunikasi, Cetakan keempat”, Universitas Terbuka  Depdikbud, Jakarta, 1999.
Singarimbun, Masri, “Metodologi Penelitian Survey”, LP3ES, Jakarta, 1983
Soekanto, Soerjono, “Sosiologi Suatu Pengantar”, PT. Rajawali, Jakarta, 1982
Sumantri, Jujun, S, “Filsafat Sebuah Pengantar Populer”, PT. Sinar Harapan, Jakarta, 1984
Swastha, Basu & Wawan, “Manajemen Pemasaran Modern”, Liberty Yogyakarta, 1990
Sumarwan, Ujang, “Prilaku Konsumen: Teori dan Penerapannya Dalam Pemasaran”,  PT. Ghalia Indonesia & MMA – IPB, Jakarta, 2003
Soemirat, Soleh Drs, M.S, dan Drs Elvinaro Ardianto, M.Si, “Dasar – Dasar Public Relations”, PT. Remaja Rosda Karya, Bandung, 2004
Tankard, W. James, & Werner J. Severin, “Communication Theories Origin Method & Uses In The Mass Media”,Logman, Publishing Group, New York, 1992.
Poerwardaminta, “Kamus Bahasa Indonesia”, Balai Pustaka, Jakarta, 1998
Pratikno Riyono, “Berbagai Aspek Ilmu Komunikasi”, Remaja Karya Bandung, Bandung, 1987
*Jurnal tersebut diatas diterbitkan dalam Jurnal Komunikologi Vol.9 No.1 Maret 2012