Rabu, 19 Oktober 2011

Fisioterapi

Pengaruh Penurunan Nilai Chronaxie Pada Arus Strength Duration Curve Terhadap Peningkatan Kekutan Otot
 

Muhammad Irfan, SKM, SSt.Ft
Dosen Fakultas Fisioterapi
Universitas Esa Unggul


Setiap individu memiliki potensi gerak yang dapat dikembangkan secara maksimal, akan tetapi gerak yang ada bukanlah gerak yang maksimal melainkan gerak aktual, gerak aktual belum tentu dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia dalam beraktifitas, gerak itu bisa saja berlebih ataupun kurang, dan bahkan bisa juga tepat mencapai tujuan. Geral aktual yang bisa mencapai tujuan inilah yang disebut sebagai gerak fungsional. 

Untuk mencapai gerak fungsional dibutuhkan kualitas kerja otot yang sesuai dengan kebutuhan gerakan seseorang. Kualitas kerja otot yang dimaksud disini adalah kemampuan otot untuk melakukan suatu kontraksi yang menimbulkan gerakan.
Selain gerak aktual dan fungsional gerak yang kita kenal kita juga mengenal adanya gerak maksimal, dimana gerak maksimal adalah gerakan paling tinggi yang seharusnya dapat dilakukan oleh seseorang dalam keadaan normal.

Untuk menimbulkan kontraksi otot dibutuhkan stimulasi yang mencapai nilai ambang rangsang tertentu yang menghasilkan kerja motorik dan memberi perintah kepada otot untuk berkontraksi. Banyaknya serabut otot yang berkerja saat kontraksi otot sangat ditentukan oleh jumlah motor unit yang melakukan aktifitas motorik.

Semakin rendah nilai ambang rangsang motor unit maka semakin mudah motor unit tersebut untuk melakukan aktifitas motorik. Oleh karena itu terjadinya peningkatan kekuatan otot di ikuti oleh jumlah serabut otot yang berkontraksi juga meningkat. Peningkatan jumlah serabut otot tersebut menyebabkan peningkatan jumlah motot unit yang berkerja Untuk mengukur nilai ambang rangsang dapat dilakukan dengan mengukur nilai chronaxie pada alat Strength Duration Curve (SDC) yang menjadi indikator dari jumlah motor unit yang berkerja saat dilakukan kontraksi otot.

Adanya pengaruh penurunan nilai ambang rangsang yang diukur dengan nilai chronaxi terhadap peningkatan kekuatan otot yang dapat diukur dengan dynamometer.


Peningkatan Kekuatan Otot
Kekuatan otot adalah istilah umum tanpa definisi yang tepat dan mempunyai pengertian yang bermacam-macam. Pengertian tersebut antara lain  “Kekuatan otot adalah kekuatan maksimum otot yang ditunjang oleh area crossectional  yang merupakan kekuatan otot  untuk  menahan beban maximal disekitar  axis sendi”.
Selain faktor neurologi,metabolisme dan psikologi yang menentukan suatu kekuatan otot atau Maximum Voluntary Contraction (MVC)

Faktor-faktor lain yang sangat penting :
Recruitment motor unit
Setiap otot terdiri dari sejumlah unit motorik yang bercampur baur, dimana motor unit adalah unit fungsional dari sistem neuromuscular yang terdiri dari anterior motor neuron yaitu terdiri dari axon, dendrit serta badan sell dan serabut otot yang terdiri dari slow twitch fiber dan fast twitch fiber. Untuk menimbulkan kontraksi lemah pada suatu otot, hanya satu atau beberapa motor unit yang diaktifkan, sedangkan untuk kontraksi yang lebih kuat  akan lebih banyak motor unit yang direkrut atau dirangsang untuk berkontraksi.
1)    Hubungan antara  panjang dengan tegangan otot pada saat kontraksi
Ketegangan maksimum otot dapat dicapai pada saat panjang yang lebih besar saat otot berkontraksi.
“Tenaga kontraktil otot yang terbesar adalah ketika otot dalam keadaan ekstensi penuh karena pada saat ekstensi penuh, otot dalam keadaan 1/3 kali lebih panjang daripada saat istirahat.“
Ini terjadi karena jumlah jembatan silang yang dapat diakses oleh molekul aktin untuk diikat dan ditekuk adalah maksimum,  sehingga terjadi ketegangan maksimum.

2)    Tipe kontraksi otot
Otot mengeluarkan tenaga paling besar ketika kontraksi eccentric atau memanjang melawan tahanan. Dan otot juga mengeluarkan tenaga lebih sedikit ketika kontraksi isometrik serta mengeluarkan tenaga yang paling sedikit ketika kontraksi concentric yaitu memendek  melawan beban. 

3)    Tipe serabut otot
Karakteristik tipe serabut otot memiliki peranan pada sifat kontraktil otot seperti kekuatan atau strenght, endurance, power, kecepatan dan ketahanan terhadap kelelahan/fatigue. Tipe  serabut II A dan B memiliki kemampuan untuk menghasilkan sejumlah tegangan tetapi sangat cepat mengalami kelelahan/fatigue. Tipe I menghasilkan sedikit tegangan dan dilakukan lebih lambat dibandingkan dengan tipe serabut II tetapi lebih tahan terhadap kelelahan/ fatigue.

4)    Ketersedian energi dan aliran darah
Otot membutuhkan sumber energi yang adequat untuk berkontraksi, menghasilkan tegangan, dan mencegah kelelahan/ fatigue. Tipe serabut otot yang predominan dan suplai darah yang adequat, serta transport oksigen dan nutrisi ke otot, akan mempengaruhi hasil tegangan otot dan kemampuan untuk melawan kelelahan/ fatigue.

5)    Usia dan jenis kelamin
Perlu diingat bahwa pada umumnya pria lebih kuat daripada wanita. Kekuatan otot timbul sejak lahir sampai dewasa meningkat terutama pada usia 20 sampai 30an dan secara gradual menurun seiring dengan peningkatan usia. Kekuatan otot pada pria muda hampir sama dengan wanita muda sampai menjelang usia puber. Setelah itu pria akan mengalami peningkatan kekuatan otot yang  signifikan dibanding dengan wanita, dan perbedaan yang terbesar timbul selama usia pertengahan (30 sampai 50).

Peningkatan kekuatan ini berkaitan dengan peningkatan masa otot setelah puber. Sampai pada 16 tahun rasio masa tumbuh antara wanita dan pria sama. Setelah masa puber massa otot pria 50 persen lebih besar sehingga rasio masa tubuh secara umum menjadi lebih besar. Disisi lain kekuatan otot per crosssectional area pada otot tampak sama antara pria dan wanita sesuai dengan proporsi serabut fasttwitch dan slow twitch pada otot-otot tertentu (komi dan karlson, 1979).
Meskipun kekuatan otot menunjukan keterkaitan antara usia dan jenis kelamin secara keseluruhan, banyak pengecualian yang dapat ditemukan karena variasi yang besar pada seseorang dalam menjaga kondisinya melalui diet dan latihan. 

6)    Ukuran cross sectional otot
Secara umum telah diketahui bahwa ukuran otot yang lebih besar pada orang normal akan lebih kuat dibanding ukuran otot yang kecil dan mungkin meningkat atau menurun dengan latihan atau inaktifitas (hipertropi dan atropi).
“Kekuatan otot skeletal manusia dapat menghasilkan kekuatan kurang lebih 38 kg/cm2 pada cross sectional area tanpa memperhatikan jenis kelamin.”

Pengukuran ukuran otot sangat sulit dilakukan magnetic resonance imaging memberikan gambaran anatomic crossection pada otot dimana area pada otot dapat diukur dan perubahan ukuran yang kecil dapat dideteksi. Biopsi otot dengan pengu-kuran pada serabut dapat mengukur peru-bahan ukuran yang kecil.

7)    Kecepatan kontraksi
Kecepatan berarti rata-rata gerakan dalam arah tertentu. Rata-rata pemendekan atau pemanjangan otot secara subtantial akan mempengaruhi tegangan otot yang terjadi selama kontraksi. Penurunan tegangan kontraksi ketika terjadi peningkatan kece-patan pada saat pemendekan otot merupa-kan dasar penjelasan jumlah link yang terbentuk perunit waktu antara filamen actin dan myosin. Pada kecepatan lambat jumlah maximum cross-bridge dapat ter-bentuk semakin cepat filamen actin dan myosin slide terhadap satu dengan yang lain, semakin kecil jumlah links yang terbentuk antara filamen-filamen dalam satu unit waktu dan semakin kecil tegangan yang tejadi.  

8)    Motivasi dari klien
Motivasi yang tinggi akan mempengaruhi kemampuan untuk menghasilkan kekuatan yang maksimal
Perubahan sistem neuromuscular da-lam peningkatan kekuatan otot
Hypertropi
Kapasitas kekuatan otot secara lang-sung berhubungan dengan fisiologi cross sectional area pada serabut otot. Dengan desain latihan yang spesifik dapat mening-katkan kekuatan otot dan ukuran serabut otot skeletal yang disebut hypertropi. Faktor yang berperan pada hypertropi meliputi; pening-katan jumlah protein pada serabut otot, peningkatan kepadatan kapiler, perubahan bio-kimia pada serabut otot.

Walaupun masih dalam tanda tanya, diduga bahwa kekuatan otot juga dapat diting-katkan dengan resistance exercise yang menyebabkan terjadinya hyperplasia yaitu peningkatan jumlah serabut otot. Peningkatan ini dapat disebabkan oleh gerak longitudinal serabut otot. Hal ini belum bisa dipastikan karena gerak serabut otot tersebut baru dilaku-kan penelitan pada binatang.

Recruitment
Faktor lain yang penting yang mem-pengaruhi kapasitas otot untuk meningkatkan kekuatan otot adalah peningkatan jumlah recruitmen motor unit. Banyaknya jumlah mo-tor unit yang aktif akan menghasilkan kekuatan otot yang besar.
Kekuatan dapat meningkat tanpa ada-nya hypertropi otot. Kekuatan otot dapat dica-pai dengan cepat pada fase awal dari program resistance exercise yang mungkin lebih meng-hasilkan recruitment daripada hypertropi.

Perubahan pada jaringan nonkontraktil
Program latihan yang didesain untuk meningkatkan kekuatan otot dapat juga dapat meningkatkan kekuatan pada jaringan nonkon-traktil seperti ; tulang, tendon dan ligamen.


Prinsip untuk meningkatkan kekuatan
1.    Prinsip overload
 Untuk meningkatkan kekuatan otot, beban yang melebihi kapasitas metabolik otot harus digunakan selama latihan. Karena hal ini akan membuat hypertropi otot dan peningkatan recruitment sehingga akan meningkatkan kekuatan otot.
2.    Kapasitas otot untuk menghasilkan tega-ngan yang tinggi dapat dicapai dengan lati-han intensitas tinggi atau latihan dengan melawan beban berat dan dengan repetisi yang relatif rendah.
Berdasarkan penjelasan di atas maka kekuatan otot biceps brachii berarti kemampuan otot biceps brachii untuk menghasilkan tegangan dan tenaga selama usaha maksimal.

Latihan Penguatan Otot
Kekuatan otot sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya gerakan, sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti usia, jenis kelamin, jenis ukuran dan panjang otot, tipe kontraksi, neurologi, metabolisme dan psikologi. Hal ini berarti bahwa kekuatan otot pada setiap orang akan berbeda, walau-pun pada orang normal.
Pada kondisi normal atau tidak dalam keadaan cidera, kekuatan otot dapat terus ditingkatkan agar dapat menghasilkan perfor-mance yang tinggi. Peningkatan kekuatan otot ini dapat dilakukan dengan memberikan teknik terapi latihan khususnya latihan strengthening.

Dalam terapi latihan khususnya latihan strengthening ada beberapa jenis teknik latihan yang dapat diaplikasikan, antara lain teknik latihan isometric, isotonic dan isokinetic. Lati-han isometric adalah suatu jenis latihan statik kontraksi yaitu kontraksi muskular melawan tahanan tanpa ada perubahan panjang otot atau tidak diikuti oleh adanya gerakan sendi. Latihan isokinetic adalah suatu jenis latihan dinamik dimana kecepatan otot untuk memen-dek dan memanjang terjadi secara konstan. Latihan isotonic adalah suatu jenis latihan dinamis dengan kontraksi otot yang meng-gunakan resistent/beban yang tetap dan ter-jadi perubahan panjang otot pada lingkup gerak sendi.

Latihan isotonik sebagai latihan penguatan otot yang paling sering digunakan pada latihan dinamik mempunyai beberapa metode, antara lain;   De Lorme, Oxford, DAPRE, Circuit Weight Training, dan Plyometric Training. Metode-metode ini merupakan meto-de isotonic resistance exercise yang pendeka-tannya dilakukan dengan meningkatkan kekua-tan otot pada seluruh lingkup gerak sendi yang ada, sehingga aktifitas fungsional dari sendi tersebut dapat meningkat.
Evaluasi untuk mengetahui adanya peningkatan kekuatan otot dapat diketahui dengan cara pengukuran dynamometer, cable tensiometer, computer assisted electromecha-nical dan isokinetik determinations serta satu repetisi maksimal.

Fisiologi Otot
Jaringan otot mempunyai kemampuan untuk ekstensibilitas yaitu kemampuan otot untuk mengulur atau memanjang. Elastisitas yaitu kemampuan otot untuk kembali kepan-jang semula atau normal. Irritabilitas yaitu kemampuan otot untuk merespon rangsang. Kontraktibilitas yaitu kemampuan otot untuk memanjang dan memendek, kemampuan ini dimiliki oleh semua jenis otot baik otot jantung, otot rangka atau skeletal maupun otot polos.

Otot Rangka tersusun oleh serat-serat otot yang merupakan “balok penyusun atau building blocks” sistem otot, dimana serat ini memiliki diameter sekitar 10 sampai 80 mikro-meter, masing-masing serat ini terbuat dari rangkaian sub unit yang lebih kecil. Hampir seluruh otot rangka berawal dan berakhir ditendo, dan serat-serat otot rangka tersusun sejajar diantara ujung-ujung tendo, sehingga daya kontraksi setiap unit akan saling menguatkan otot rangka memiliki tiga lapisan yang terdiri dari epimesium merupakan lapisan jaringan ikat yang terdiri dari serat kolagen yang membungkus otot paling luar, perimesium merupakan lapisan yang membungkus berkas otot kecil atau fasciculus, endomesium merupa-kan lapisan yang membungkus sel otot.
Sarkolema adalah membran sel dari sel otot, sarkolema terdiri dari membran sel yang sebenarnya, yang disebut membran plasma. Dan sebuah lapisan tipis bahan polisakarida yang mengendung sejumlah serat kolagen tipis. Pada ujung serat otot lapisan permukaan sarkolema ini bersatu dengan serat tendon dan serat–serat tendon kemudian berkumpul men-jadi berkas untuk membentuk tendon dan kemudian menyisip kedalam tulang.

Miofibril  terdiri dari filamen aktin dan myosin, dimana pada setiap serat otot akan mengandung beberapa ratus sampai ribu miofibril yang letaknya saling berdampingan dan memiliki sekitar 1500 filamen myosin dan 3000 filamen aktin yang merupakan molekul protein polimer besar yang bertanggung jawab untuk kontraksi otot.
Sarkoplasma adalah myofibril-myofibil terpendam dalam serat otot didalam suatu matriks yang terdiri dari unsur-unsur intra seluler. Cairan sarkoplasma mengandung kali-um, magnesium, fosfat dan enzim protein dalam jumlah besar, juga terdapat mitokondria dalam jumlah yang banyak sekali, terletak diantara dan sejajar dengan myofibril, suatu keadaan yang menunjukan bahwa myofibril-myofibril yang berkontraksi membutuhkan sejumlah besar adenosin trifosfat atau ATP yang dibentuk oleh mitokondria

Reticulum sarkoplasmik terdapat di dalam serat otot yang berada dalam sarko-plasma, mempunyai susunan khusus yang sangat penting dalam pengaturan kontraksi otot, semakin cepat kontraksi suatu otot, maka semakin banyak juga reticulum sarkoplasmik yang ada.

Filamen myosin terdiri dari banyak molekul myosin yang masing-masing mem-punyai berat molekuler kira-kira 460.000, molekul myosin terdiri dari enam rantai polipeptida, dua rantai berat masing-masing mempunyai berat molekul masing-masing sekitar 200.000 dan empat rantai ringan dengan berat molekul masing-masing 20.000, dua rantai besar saling melilit satu sama lain untuk membentuk untai ganda salah satu ujung dari masing-masing rantai ini melipat kedalam sebuah struktur polipeptida globuler yang disebut dengan  kepala myosin, jadi terdapat dua kepala bebas yang letaknya bersebelahan pada salah satu ujung molekul myosin untai ganda, bagian yang memanjang dari untai spiral disebut ekor, empat rantai ringan juga bagian dari kepala myosin dua pada setiap kepala, rantai-rantai ringan ini membantu mengatur fungsi kepala selama kontraksi otot. Filamen myosin dibentuk oleh 200 atau lebih molekul myosin tunggal. panjang total setiap filament kira-kira 1,6 mikrometer, ciri- ciri lain dari kepala myosin yang sangat penting untuk kontraksi otot adalah bahwa ia dapat berfungsi seperti enzim ATPase, kemampuan ini menyebabkan kepala mampu memecah ATP dan menggunakan energi yang berasal dari ikatan fosfat berenergi tinggi ATP untuk memberi energi pada proses kontraksi.

Filament aktin terdiri dari tiga kompo-nen protein yang terdiri dari aktin, tropomiosin dan troponin, tulang punggung filemen aktin adalah suatu molekul protein F-aktin untai ganda, setiap untai heliks F-aktin ganda terdiri dari molekul G-aktin terpolimerisasi, yang masing-masing mempunyai berat molekul sekitar 42.000. terdapat kurang lebih 13 mole-kul seperti ini pada setiap perputaran dari setiap untai heliks, pada setiap molekul G-aktin melekat satu molekul ADP. Molekul ADP ini adalah bagian aktif pada filament aktin yang berinteraksi dengan jembatan penyeberangan filament myosin untuk menimbulkan kontraksi otot, bagian aktif pada kedua untai F-aktin dari heliks ganda diatur bergantian, menghasilkan satu tempat aktif pada seluruh filament aktin kira-kira setiap 2,7 nanometer, setiap filament aktin panjangnya sekitar 1 mikrometer, bagian dasar dari filamant  aktin disisipkan dengan kuat kedalam lempeng Z, sedangkan ujung-ujung lain menonjol kedalam sarkomer yang berdekatan untuk berada dalam ruangan an-tara molekul myosin.

Molekul tropomiosin mempunyai berat molekul 70.000 dan panjang 40 nanometer. Pada stadium istirahat molekul tropomiosin diduga terletak pada ujung atas tempat yang aktif dari untai aktin, sehingga tidak dapat terjadi penarikan antara filament aktin dan myosin untuk menimbulkan kontraksi.
Troponin mempunyai berat molekul sekitar 18.000-35.000, protein ini terdiri dari tiga sub unit protein yang terikat secara long-gar, yang masing-masing memiliki peran specific dalam pengaturan kontraksi otot, tro-ponin ini terdiri dari troponin I yang mempu-nyai afinitas yang kuat terhadap aktin, troponin T terhadap tropomiosin dan troponin C terhadap ion-ion kalsium, afinitas troponin yang kuat terhadap ion-ion kalsium dapat mence-tuskan proses kontraksi.

Mekanisme Kontraksi dan Relaksasi
Otot merupakan struktur elastik yang terdapat dalam medium yang viscous (teori viskoelastic 1840-1920). Sejak ditemukannya struktur aktin dan myosin sebagai protein kontraktil maka muncullah teori continous filament theory  yang menjelaskan bahwa pro-ses kontraksi molekul aktin dan myosin berkombinasi membentuk satu continous filament.
Tahun 1954, Huxley mengajukan sliding filament theory. Dengan menggunakan mikros-kop electron serta dukungan data biokimia, maka teori sliding filament dikembangkan menjadi cross-bridge teori yang mana menjelaskan bahwa kepala dari myosin mem-bentuk cross-bridges dengan aktin monomer.

Menurutnya bahwa pada saat kontraksi cross-bridges pertama-tama akan menempel pada filament tipis dan menariknya kearah central dari pita A, kemudian ia akan terlepas dari filament tipis sebelum kembali bergerak kedalam posisinya yang semula. Gerakan yang terjadi tersebut disebut  juga rachet theory.
Jika terdapat troponin-tropomiosin kompleks, filament aktin akan melekat erat dengan  filament miosin dengan adanya ion Mg dan ATP. Namun, jika terdapat troponin-tropomiosin kompleks maka interaksi antara filamen aktin dan myosin tidak terjadi. Dengan  demikian dapat diambil kesimpulan bahwa pada keadaan relaksasi bagian aktif dari filamen aktin ditutupi oleh troponin-tropo-miosin kompleks. Hal ini menyebabkan bagian aktif tersebut tidak dapat melekat dengan filamen myosin untuk menimbulkan kontraksi.

Setiap dikeluarkannya isi sebuah gelem-bung sinaptik  yang biasanya berisi Ach akan dihasilkan perubahan tegangan listrik pada sel post sinaptik. Pada setiap perangsangan saraf pada umumnya akan dilepaskan sejumlah gelembung sinaptik secara serentak sehingga membran ototnya mengalami depolarisasi di atas nilai ambang sehingga terbangkitlah aksi potensial. Potensial menyebar ke seluruh sel otot yang akan berakhir sebagai kontraksi.
Mekanisme kontraksi otot terjadi melalui beberapa tahapan yaitu dimulai pada terjadinya aksi potensial pada motor neuron yang menyebabkan pelepasan Ach. Ach akan terikat dengan reseptor pada otot yang menyebabkan end plate potential (EPP), Na channel terbuka dan ion Na akan masuk kedalm sel otot dan memulai aksi potensial pada otot. Aksi potensial pada otot tersebut akan menyebabkan ion Ca masuk ke dalam sel dan merangsang pelepasan ion Ca intra sel dari sisterna RS atau Ca interduced Ca Released
Depolarisasi dari SR terjadi dengan mengaktifkan Ca channel pad tubulus T melalui reseptor dihidropiridin yang terdapat pada Ca channel. Ion Ca dari RS ini akan terikat dengan TN-C dan selanjutnya merubah konfigurasi troponin-tropomiosin kompleks dan terjai sli-ding dari filamen aktin dan myosin. Proses ini disebut proses eksitasi-kontraksi kopling  atau excitation-contraction coupling.

Dalam beberapa detik setelah proses kontraksi, ion Ca akan dipompa  kembali ke dalam sisterna RS oleh Ca pump (Ca ATpase) yang terdapat pada membran RS. Dengan tidak adanya ion Ca, troponin-tropomiosin kompleks akan kembali ke konfigurasi semula, dan trpomiosin akan kembali menutupi bagian aktif dari aktin, sehingga menghalangi interaksi antara aktin dan myosin hingga terjadilah relaksasi.
Ca yang dipompa kembali kedalam sisterna RS oleh Ca pump akan terikat dengan calcium-binding protein yang terdapat didalam sisterna RS yang disebut calsequestrin yang dapat mengikat ion Ca dalam jumlah besar. Ion Ca yang terikat pada calsequestrin ini akan dilepaskan kembali dari RS pada saat kontraksi berikutnya.

Komponen susunan saraf
Neuron
Ditinjau dari unsur selularnya maka sistem saraf terdiri atas dua komponen utama yaitu neuron dan neuroglia. Neuron adalah struktur yang  kompleks dan merupakan sistem komunikasi utama dalam tubuh manusia. Neuron memiliki berbagai macam bentuk, tetapi pada dasarnya mempunyai suatu per-wujudan yang sama, yaitu terdiri dari badan sel atau cell body dan beberapa juluran-juluran sitoplasma yang dikenal sebagai neurit-neurit. Badan sel dinamakan soma atau perikarion yang merupakan pusat proses dari semua aktivitas sistem saraf.

Dari fungsinya neurit-neurit dapat dibagi dalam 2 jenis yaitu axon  dan dendrit, yang masing masing berfungsi menghantarkan impulse. Dendrit menghantarkan impuls ke perikarion dan akson menyalurkan impulse dari perikarion.
Aktivitas  di dalam neuron yang cepat dan bergerak melalui juluran penyalurannya dengan perubahan-perubahan potensial  sering disebut sebagai impulse saraf. Impulse saraf mengandung fenomena kelistrikan akan tetapi impulse tersebut bukanlah sebuah arus listrik. Adanya ion-ion K+, Na+, Cl- yang memung-kinkan terjadinya gejala-gejala kelistrikan di dalam neuron.
Sebagai bagian utama, neuron ber-peran dalam menerima, menterjemahkan dan menyebarkan  pesan yang berupa sinyal demi kelancaran aktivitas mahluk hidup. Reaksi neuron yang terjadi didasarkan oleh adanya rangsangan atau stimulasi dari luar tubuhnya yang dapat berupa rangsangan alamiah dan rangsangan buatan. Rangsangan dari luar neuron menghasilkan perubahan-perubahan pada membran dendrit dan perikarion dalam bentuk bioelektrik.

Pada permukaan atau membran setiap neuron terdapat selisih potensial akibat adanya kelebihan ion negatif di bagian dalam mem-bran. Dalam hal ini neuron dalam keadaan terpolarisas disebut potensial membran atau potensial rehat.
Dalam komunikasi neuron yang berupa potensial Aksi atau action potential yang secara umum merupakan perubahan potensial yang berupa penurunan yaitu potensial sebelah dalam adalah negatif dan disebelah luar adalah membran positif menjadi potensial sebelah dalam adalah positif dan sebelah luar adalah membran negatif  atau depolarisasi. Yang mendasari potensial membran  terutama dipengaruhi oleh konsentrasi ion K ekstra sel.


Neuroglia
Neuroglia merupakan tempat suplai nutrisi dan proteksi pada neuron-neuron, neuroglia membantu regulasi konsentrasi ion sodium dan potasium pada intra selular space. Neuroglia adalah unsur selular dari susunan saraf yang tidak menghantarkan impulse saraf. Jumlah sel neuroglia disekitar neuron bertam-bah jika aktivitas neuron meningkat hal ini memberi tanda peranan neuroglia dalam trans-portasi dan metabolik pada neuron.

Ambang Rangsang Saraf
Sel saraf mempunyai ambang rangsang yang rendah. Rangsang dapat berupa rang-sang listrik, kimiawi atau mekanis. Terbentuk dua jenis perubahan fisiokimiawi lokal, poten-sial aksi yang tidak menyebar disebut potensi sinaps, generator atau potensial elektronik, bergantung kepada lokasinya dan perubahan yang menyebar disebut Potensial Aksi atau Aksi Potensial. Ini merupakan satu-satunya respon listrik pada neuron dan jaringan peka rangsang lainnya dan merupakan sifat utama sistem saraf.
Aksi potensial mempunyai beberapa karakteristik yang penting antara lain:
1.    Aksi potensial dimulai dengan proses depolarisasi. Rangsangan yang mengawali aksi potensial pada neuron menyebabkan menurunnya membran potensial atau depolarisasi membran. Biasanya depolari-sasi ditimbulkan oleh stimulasi dari luar, misalnya stimulasi berupa regangan otot, tekanan pada persendian atau stimulasi dari dari neuron lain, misalnya transmisi impulse dari neuron sensoris ke neuron motoris pada refleks-refleks fisiologis.
2.    Aksi potensial  dapat ditimbulkan jika depo-larisasi membran mencapai nilai ambang rangsang tertentu atau sering disebut Threshold potensial.
3.    Aksi potensial merupakan proses yang menunjukkan peristiwa gagal atau tuntas atau All or None. Artinya bahwa jika rangsangan yang diterima mencapai nilai ambang  rangsang pada neuron tertentu maka akan timbul reaksi potensial, sedang-kan jika rangsangan  yang  ada tidak men-capai atau berada dibawah nilai ambang rangsang neuron maka aksi potensial tidak akan terjadi.
4.    Selama terjadi aksi potensial, maka poten-sial yang terjadi akan melebihi nilai 0 mV sehingga bagian dalam dari sel akan menjadi lebih positif untuk sementara. Keadaan ini disebut overshoot dari aksi potensial yang umumnya terjadi pada kisaran +35 mV. Setelah mencapai puncak aksi potensial membran potensial akan berbalik dimana bagian dalam sel menjadi kurang positif. Potensial aksi yang terjadi kembali mengalami repolarisasi kearah membran potensial istirahat  yang disebut undershoot dari potensial aksi.

Proses aksi potensial terjadi melalui tahapan-tahapan sebagai berikut:
Fase Istirahat
Keadaan istirahat  merupakan keadaan sebelum aksi potenial terjadi. Pada keadaan ini membran sel dalam keadaan polarisasi oleh karena pada tahap ini membran potensial adalah negatif.

Fase Depolarisasi
Jika terdapat rangsangan yang menca-pai nilai ambang rangsang neuron, maka pada fase ini membran menjadi permeabel terhadap ion Na, sehingga sejumlah besar ion Na akan masuk kedalam sel. Potensial dengan cepat akan meningkat menjadi positif (depolarisasi) sampai mengalami overshoot. Umumnya pada sebagian neuron pada susunan saraf pusat aksi potensial tidak mencapai overshoot, dan hanya mencapai 0 mV.

Tahap Repolarisasi
Terjadinya proses dimana Na chanel mulai tertutup dan K chanel terbuka, kemudian terjadi difusi pasif dari ion K ke luar sel dan menyebabkan membran potensial kembali ke keadaan istirahat, proses tersebut terjadi saat permeabilitas ion Na mencapai maksimal dalam beberapa msec.
Kecepatan rambat impuls atau kece-patan aksi potensial untuk bergerak dari satu titik ke seluruh akson bervariasi dari satu akson ke akson lainnya. Penyebaran aksi potensial mengakibatkan aksi potensial tersebut semakin melemah jika semakin jauh jarak yang harus di tempuh oleh aksi potensial tersebut. Terjadinya penyebaran aksi potensial dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, terutama oleh faktor diameter serabut saraf dan sifat dari membran sel saraf.
Semakin besar diameter serabutnya maka semakin cepat impuls bergerak diban-dingkan propagasi impulse pada serabut saraf diameter yang lebih kecil.

Neuromuskular Junction
Setiap serabut saraf motoris terbagi menjadi sejumlah cabang–cabang yang akan mengadakan kontak langsung dengan serabut otot melalui hubungan saraf otot yang disebut neuromuscular junction atau motor end-plate.
Neuromuscular Junction merupakan  titik kontak antara saraf dan permukaan sera-but otot, memiliki sejumlah kekhusususan mor-fologi dan biochemical. Kekhususan ini secara langsung mentransfer impulse elektrik dari saraf ke myofibril.
Setiap saraf motorik dan serabut saraf otot yang dipersarafi mencerminkan suatu sis-tem divergens. Setiap cabang dari axon motorik yang berselubung mielin setelah dekat pada serabut otot akan membagi cabang-cabang halus dengan membentuk gambaran menyebar yang tidak berselubung. Penyebaran akhiran tersebut merata sepanjang serabut otot ke dua arah yang kadang-kadang menem-pati daerah seluas beberapa ribu mikron persegi.
Secara anatomis setiap axon yang mempersarafi suatu serabut otot, akan menga-lami kehilangan lapisan mielinnya pada saat akan mencapai serabut otot yang diper-sarafinya.

Setiap serabut otot yang dipersarafi oleh satu serabut saraf disebut motor unit. Jumlah otot pada satu unit motorik bervariasi sehingga semua serat otot pada unit motorik berjenis sama. Berdasarkan jenis serat otot yang disarafinya, sehingga dengan demikian berdasarkan lamanya kontraksi kedutan atau twitch, unit motorik dibagi dalam unit cepat dan lambat. Secara umum, unit otot lambat disarafi oleh neuron motorik kecil penghantar lambat, sedangkan unit cepat oleh neuron motorik besar penghantar cepat. Pada otot ektremitas besar, unit lambat kecil merupakan yang pertama di gerakkan, tahan terhadap kelelahan dan terbanyak dipakai. Unit cepat yang mudah lelah, biasanya digerakkan dengan tenaga yang lebih kuat. Perbedaan antara jenis unit otot bukan bersifat bawaan, melainkan ditentukan oleh antara lain kegiatannya, bila saraf untuk otot lambat dipotong dan digan-tikan oleh saraf untuk otot cepat, saraf ber-generasi dan mensarafi otot lambat. Meskipun demikian, otot menjadi cepat, diikuti peru-bahan-perubahan kegiatan isoform protein otot dan miosin ATPase. Diperkirakan bahwa peru-bahan ini diakibatkan oleh zat-zat tropik yang mengalir dari saraf ke otot, tetapi tampaknya disebabkan perubahan pola aktifitas otot. Pada berbagai percobaan perangsangan, telah dibuktikan bahwa perubahan ekspresi gen MHC dan dengan demikian isoform MHC dapat ditimbulkan dengan perubahan pola aktifitas listrik yang digunakan untuk merangsang otot.

Strength Duration Curve (SDC)
Strength Duration Curve merupakan gambar kurva grafis hubungan antara inten-sitas dan durasi arus searah terputus-putus terhadap suatu otot, dimana diperoleh kon-traksi otot minimal yang dapat dilihat.
Jenis arus listrik yang digunakan adalah arus searah terputus-putus dengan bentuk grafis segiempat atau retingular dan segitiga atau triangular, dengan demikian kurva yang diperoleh ada dua macam yaitu kurva seg iempat atau retingular curve dan kurva segitiga atau triangular curve.


Komponen SDC
a.    Rheobase
Adalah intensitas minimal pada kurva segiempat yang masih mampu menim-bulkan kontraksi minimal pada durasi pulsa 1000ms. Rheobase pada otot skelet ter-nyata sangat bervariasi, tergantung antara lain letak dan jenis ototnya, ketebalan kulit lemak yang menutupinya, situasi lingku-ngan dan lain-lain
b.    Temps Utile
Adalah durasi minimal kurva segiempat dimana intensitas masih minimal. Pada otot normal nilainya sekitar 10 ms
c.    Chronaxie
Adalah besarnya durasi dengan intensitas dua kali rheobase pada arus bentuk segi empat dengan durasi 1000 ms masih diper-oleh kontraksi minimal yang dapat dilihat dengan mata. Pada otot normal nilainya 0,1-1 ms
d.    Optimal Duration
Adalah durasi minimal pada curva segitiga dimana dengan intensitas minimal dapat diperoleh kontraksi minimal. Pada otot normal nilai optimal duraton sekitar 20 ms.
e.    Ambang Akomodasi
Adalah intensitas arus bentuk segitiga dengan durasi 1000 ms dimana masih diperoleh kontraksi otot minimal
f.    Accomodation Quotient
Adalah nilai besarnya akomodasi yang diperoleh dari nilai akomodasi dibagi nilai rheobase.


Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan SDC
1.    Pemilihan alat yang tepat apabila ukuran intensitas dan durasi dapat dihitung dengan pasti.
2.    Otot yang diperiksa tidak boleh lelah, karena digunakan pemutusan arus sekitar 2000 ms, intensitas minimal dengan pengu-langan sedikit, dan suhu serta situasi rua-ngan yang baik.
3.    Agar kontraksi minimal dapat terlihat de-ngan tepat, maka penerangan ruangan harus baik, melihat dengan sudut pandang dan tetap dan titik fokus yang tetap pula.
4.    Pemasangan kedua elektrode dengan uku-ran yang sama lebar dengan otot yang diperiksa dan diletakkan persis pada ujung otot bagian origo dan insersio dimana katode dipilih yang distal.
5.    Untuk membuat SDC periodik pada satu otot, maka dilakukan dengan alat yang sama, metode yang sama dan pemeriksaan yang sama. Besarnya kontraksi minimal yang harus ditemukan berdasarkan peng-lihatan perabaan dari fisioterapis sendiri yaitu dengan jelas terlihat dan teraba. Pada umumnya penyimpangan yang jelas nampak pada SDC adalah pada curva triangular, oleh karena itu pembuatan curva rectangular secara keseluruhan seper kurva normal tidak perlu harus dilakukan cukup-lah dengan menentukan nilai Rheobase dan Chronaxi

Penentuan nilai Chronaxe
Chronaxi dapat ditentukan dengan memilih bentuk grafis retingular secara sederhana. Pertamakali kita menentukan nilai Rheobase dengan durasi 1000ms, yaitu sampai timbul kontraksi minimal. Kemudian pengatur intensitas pada alat dikembalikan pada posisi nol, dan durasi ditentukan mulai dari 0,1ms selanjutnya intensitas ditetapkan sebesar dua kali (2x) nilai rheobase. Sementara besarnya intensitas tetap pada nilai 2x rheobase, durasi dinaikkan sampai menimbulkan kontraksi mini-mal yang jelas. Durasi tersebut dimana kontraksi minimal timbul dengan intensitas 2x rheobase disebut Chronaxi


Sumber: Hasil Pengolahan Data
Gambar 1
Grafik Chronaxie

Hubungan Kekuatan Otot dengan nilai Cronaxie
Otot adalah jaringan yang terbesar dalam tubuh yang mempunyai karakteristik sebagai berikut yaitu eksitabilitas, kontrac-tilitas, ekstensibilitas dan elastisitas  dimana pengertian dari eksitabilitas adalah kemam-puan untuk merespon rangsang, kontractilitas adalah kemampuan otot untuk memanjang dan memendek, ekstensibilitas adalah kemampuan untuk terulur ketika ditarik, elastisitas adalah kemampuan untuk kembali kebentuk semula. Keempat karakteristik  tersebut bisa mempe-ngaruhi peningkatan power otot, kekuatan otot serta endurance otot. Otot biceps brachii merupakan salah satu otot penggerak tubuh yang utamanya berfungsi untuk melakukan gerakan fleksi siku dan juga membantu dalam melakukan gerakan supinasi pada pada forearm dimana akan lebih kuat bekerja pada posisi fleksi sendi siku, otot biceps brachii merupakan jenis otot tipe satu (tonic) dimana otot ini mempunyai fungsi sebagai stabilisasi, bekerja secara Aerobic, kontraksinya lambat landai, aktivitas myosin ATPasenya rendah, tidak mudah lelah, warnanya merah dan banyak memiliki mitokondria. Otot biceps brachii merupakan otot fleksor lengan yang sangat besar kerjanya dalam aktivitas sehari-hari, sehingga kekuatan dari otot biceps ini sangat diperlukan. Kekuatan otot adalah kekua-tan maksimal otot yang ditunjang oleh area crossectional otot yang merupakan kemam-puan otot untuk menahan beban maksimal disekitar axis sendi, kekuatan otot sendiri jika tidak dilatih tidak akan maksimal dalam peng-gunaannya bahkan bisa menyebabkan kelema-han yang menimbulkan menurunnya aktivitas fisik dan  keterbatasan fungsi.

Kekuatan otot itu sangat dipengaruhi oleh berbagai macam hal yaitu usia dan jenis kelamin, jumlah motor unit, perubahan panjang otot, tipe kontraksi otot, tipe serabut otot, energi dan aliran darah,ukuran crossectional, kecepatan kontraksi dan motivasi. dimana pada pria lebih kuat dari wanita dan usia 20 sampai 30 tahunan merupakan puncak dari kekuatan otot, setelah melewati umur 30 otot akan mengalami penurunan. Dengan bertambahnya motor unit maka kekuatan ototpun akan ikut meningkat, pada perubahan panjang otot dimana pada saat otot berkontraksi meman-jang terdapat kekuatan maksimum dari otot ini terjadi  saat otot berkontraksi secara eccentric, otot mendapatkan kekuatan yang lebih besar dibandingkan dengan kontraksi isometric dan kontraksi concentric, pada otot tipe satu meru-pakan tipe otot yang bekerja lambat landai, bekerja secara aerob sehingga otot ini lebih baik digunakan untuk endurance sedangkan otot tipe dua merupakan tipe otot yang bekerja cepat dan tajam, menggunakan an aerob sehingga pada tipe otot ini lebih baik untuk ditingkatkan kekuatannya. Dengan adanya energi yang adekuat dan aliran darah yang baik dapat meningkatkan tegangan otot serta mencegah otot fatique, ukuran crossectional otot sangat mempengauhi kekuatan otot dimana dengan bertambah besarnya ukuran crossectional maka otot tersebut akan bertam-bah kuat, selain itu juga kecepan kontraksi sangat mempengaruhi kekuatan otot jika semakin cepat terjadi kontraksi maka akan banyak serabut otot baru yang akan dihasilkan, motivasi juga merupakan elemen pendukung untuk meningkatkan kekuatan otot.

Dengan pemberian latihan pembe-banan, maka jumlah serabut otot yang berkon-traksi akan bertambah. Peningkatan jumlah serabut otot tersebut akan menghasilkan peningkatan kekuatan otot dalam melakukan fungsinya.
Besar kecilnya kontraksi dan jumlah serabut otot yang teraktivasi ditentukan oleh jumlah motor unit yang aktif memberikan impulse motorik kepada serabut yang diper-sarafi.
Aktifitas motor unit dalam memberikan impulse motorik ke serabut otot dipengaruhi oleh besar stimulus dan kemampuan saraf dalam menerima stimulus yang ditentukan oleh nilai ambang rangsang (Treshold Potensial) saraf.
Salah satu modalitas fisioterapi yang digunakan untuk melakukan identifikasi terha-dap saraf dan otot adalah dengan menggu-nakan arus Strength duration Curve (SDC).

Strength Duration Curve merupakan gambar kurva grafis hubungan antara inten-sitas dan durasi arus searah terputus-putus terhadap suatu otot, dimana diperoleh kon-traksi otot minimal yang dapat dilihat.
Jenis arus listrik yang digunakan adalah arus searah terputus-putus dengan bentuk grafis segiempat atau retingular dan segitiga atau triangular, dengan demikian kurva yang diperoleh ada dua macam yaitu kurva segi empat atau retingular curve dan kurva segitiga atau triangular curve.

Dalam penggunaan SDC untuk meng-identifikasi kemampuan otot dan saraf ter-hadap rangsangan maka maka dilakukan dengan menggunakan nilai chronaxi, chronaxie adalah besarnya durasi dengan intensitas dua kali rheobase pada arus bentuk segiempat dengan durasi 1000 ms masih diperoleh kon-traksi minimal yang dapat dilihat dengan mata. Pada otot normal nilainya 0,1-1 ms.
Nilai chronaxie akan menunjukkan minimal rangsangan yang diterima untuk menghasilkan kontraksi minimal.

Prosedur Pengukuran
Prosedur pengukuran kekuatan otot de-ngan menggunakan Dynamometer:
a.    Posisi klien duduk dikursi.
b.    Peneliti mempersiapkan Dynamometer yang akan digunakan untuk pengukuran.
c.    Pegangan Dynamometer  pada sisi yang bawah  difiksasi dengan tali yang diikat kelantai, sedangkan pegangan pada sisi yang atas  ketangan klien yang akan diukur dengan posisi wrist semi fleksi dan jari-jari tangan mengepal memegang pegangan dynamometer.
d.    Berikan instruksi pada klien untuk meng-angkat dynamometer  sehingga akan ter-jadi proses peregangan pada dynamometer dengan ini kita bisa melihat jarum pada dynamometer akan berputar menunjukan nominal angka kekuatan yang dihasilkan.
e.    Peneliti mengambil kembali hand dynamo-meter kemudian mencatat hasil yang didapat.
f.    Prosedur ini dilakukan pada awal penelitian sebagai data awal dan sesudah perlakuan akhir sebagai data akhir hasil penelitian.


Prosedur Pengukuran Nilai Chronaxie Pada SDC
a.    Posisi klien duduk dikursi posisi lengan tersangga.
b.    Peneliti mempersiapkan Myomed yang digunakan untuk pengukuran dengan  ba-sahkan 2 elektrode lalu di keringkan sampai spon menjadi lembab (dengan mengibas-ngibaskan spon sampai airnya tidak mene-tes lagi).
c.    Sebelum kita melakukan pemeriksaan untuk pembuatan SDC harus diperhatikan terlebih dahulu situasi atau keadaan dari otot yang hendak diperiksa.
d.   Electrode diletakkan pada otot biceps, salah satu electrode pada bagian insersio dan lainnya pada origo. 2 cm dari Epicondylus Medial dan 2 cm dari Acromion
e.    Menentukan nilai Rheobase dengan durasi 1000ms, yaitu sampai timbul kontraksi minimal yang teraba dan terlihat pada tendon.
f.    Tentukan nilai Chronaxi dengan melihat kontraksi minimal timbul dengan intensitas 2x rheobase
g.   Prosedur ini dilakukan pada awal penelitian sebagai data awal sebelum mengalami peningkatan kekuatan otot dan sesudah perlakuan akhir (setelah kekuatan otot  meningkat)  sebagai data akhir hasil pene-litian.


Hasil Penelitian
Dalam penelitian ini sampel yang diambil adalah mahasiswa INDONUSA Esa Unggul. Sampel baru diperoleh melalui suatu wawancara serta pemberian questioner yang dibuat berdasarkan criteria inklusif untuk diisi oleh sampel.
Secara keseluruhan sampel yang digunakan adalah sebanyak 30 orang. Dimana sebelumnya sampel diberikan penjelasan ten-tang tujuan serta maksud dari penelitian tersebut, yang kemudian sampel menanda-tangani lembar persetujuan menjadi sampel sebagai bentuk informed consent untuk men-jadi sampel penelitian.




Tabel 1

Sumber: Data Mhs FT Indoonusa

Berdasarkan tabel 1 di atas dapat dilihat jum-lah sampel perempuan adalah 15 orang (50 %) dan 15 orang sampel laki-laki (50%), sehingga jumlah total penelitian dari sampel yang diteliti adalah 30 orang (100%).


Nilai kekuatan otot sebelum latihan
Adapun nilai hasil pengukuran kekuatan otot dengan dynamometer sebelum melakukan latihan

Tabel 2

Sumber: Hasil Pengolahan Data

Berdasarkan tabel 2 di atas dapat dilihat kekuatan otot 5 – 10 kg berjumlah 12 orang (40 %), kekuatah otot 11 – 15 kg berjumlah 6 orang (20%), kekuatan otot 16 – 20 kg berjumlah 9 orang (30 %), kekuatan otot 21 – 25 kg berjumlah 3 orang (10 %).

Nilai chronaxie sebelum pelatihan
Adapun nilai hasil pengukuran chronaxie dengan menggunakan SDC sebelum sampel melakukan pelatihan

Tabel 3

Sumber: Hasil Pengolahan Data

Berdasarkan tabel 3 di atas dapat dilihat nilai chronaxie 0,05 – 0,25 berjumlah 9 orang (30%), nilai chronaxie 0,26 – 0,45 berjumlah 12 orang (40%), nilai chronaxie 0,46 – 0,65 berjumlah 7 orang  (23,3%), nilai chronaxie 0,66 – 0,85 berjumlah 2 orang (6,7%).

Nilai kekuatan otot setelah pelatihan
Nilai hasil pengukuran kekuatan otot dengan dynamometer setelah melakukan latihan

Tabel 4

Sumber: Hasil Pengolahan Data

Berdasarkan tabel 4. di atas dapat dilihat kekuatan otot 5 – 10 kg berjumlah 5 orang (16,7 %), kekuatah otot 11 – 15 kg berjumlah 10 orang (33,3 %), kekuatan otot 16 – 20 kg berjumlah 4 orang (13,3 %), kekuatan otot 21 – 25 kg berjumlah  11 orang (36,7 %).


Nilai chronaxie setelah melakukan pelatihan
Nilai hasil pengukuran chronaxie dengan menggunakan SDC setelah sampel melakukan pelatihan
Tabel 5

Sumber: Hasil Pengolahan Data

Berdasarkan tabel 5 di atas dapat dilihat nilai chronaxie  0,05 – 0,25  berjumlah 12 orang (40%), nilai chronaxie 0,26 – 0,45 berjumlah 11 orang (36,7 %), nilai chronaxie 0,46 – 0,65  berjumlah 6 orang (20 %), nilai chronaxie 0,66 – 0,85 berjumlah 1 orang (3,3%)

Dalam penelitian ini untuk mengetahui apakah pelatihan telah mengalami peningkatan kekuatan otot pada setiap sampel maka dilaku-kan pengukuran selisih sebelum dan sesudah diberikan pelatihan kekuatan.
Dari hasil pengukuran menunjukkan bahwa seluruh sampel telah mengalami peningkatan kekuatan otot dengan rata-rata peningkatan sebesar 3,5667

Dari hasil pengukuran nilai cronaxie menunjukkan bahwa seluruh sampel telah mengalami penurunan nilai chronaxie dengan rata-rata penurunan sebesar 0,0530.
Sumber: Hasil Pengolahan Data
Grafik 1
Distribusi peningkatan nilai kekuatan otot rata-rata

Adapun grafik dari distribusi data tersebut di atas adalah sebagai berikut :
 Sumber: Hasil Pengolahan Data

Grafik 2
Distribusi penurunan nilai chronaxie rata-rata

Pada penelitian ini populasi dari sample diasumsikan berdistribusi normal.

Uji Hipotesis
Setelah dilakukan latihan pembebanan pada 30 sample untuk dapat meningkatakan kekuatan otot yang dilimiki, maka didapatkan hasil bahwa kekuatan otot meningkat pada seluruh simple dalam penelitian ini. Dengan rata-rata peningkatan sebesar 3,56 kg dengan menggunakan alat ukur Dynamometer.
Selanjutnya analisis perbandingan nilai chronaxie sebelum dan sesudah terjadinya peningkatan kekuatan otot dilakukan untuk melihat bahwa peningkatan kekuatan otot pada 30 sample tersebut dipengaruhi oleh penurunan nilai chronaxie, seperti pada tabel berikut:

Dengan menggunakan uji t-test related maka didapatkan hasil perhitungan  sebagai berikut: dari tabel perhitungan di atas menunjukkan bahwa nilai P = 0,000 (P<(0,05)), atau dengan nilai t-hitung sebesar 16,098 dan t-tabel dengan df 29 dan taraf significan 0,05 yaitu sebesar 1,6991, maka (t-hitung > t-tabel), dapat digambarkan pada kurva berikut ini:
 
Hal tersebut menunjukkan bahwa hipĆ³tesis nol (Ho) ditolak sehingga dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan yang bermakna nilai chronaxie sebelum dan sesudah otot mengalami pening-katan. Yang secara deskriptif menunjukkan rata-rata nilai chronaxie mengalami penurunan.
Dengan hasil analisis tersebut dapat dikatakan bahwa peningkatan kekuatan otot pada sejumlah kelompok sample dipengaruhi oleh penurunan nilai chronaxie.


Daftar Pustaka
Deusen, Julia Van, et all, “Assessment in Occupational Therapy and Physical Therapy”, W.B. Saunders Company, Philadelphia, 1997.

A.H, Crenshaw, “Campbell’s Operative Ortho-paedics”, eighth edition, Mosby Year Book, 1992.

Adam, John Crawford & David C. Hamblen, “Outline of Orthopaedic”, twelfth edi-tion, Churchill Livingstone, 1996.

AN, De Wolft & J.M.A.Mens, ”Pemeriksaan Alat Penggerak Tubuh”, Houten / Zeveten.

Cailliet, Renne, “Soft Tissue Pain and Disa-bility”, F.A Davis Company, Philadelphia, 1978.
John Low, Ann Reed, “Electrotherapy Explained Principles and Practice”, Third Edition, Butterworth Heinemann, Oxford, 2000.

Nugroho D.S., ”Neurofisiologi Nyeri dari Aspek Kedokteran”, Makalah disampaikan pada Pelatihan Penatalaksanaan Fisioterapi Komprehensif     Pada Nyeri, Surakarta, 2001.

Robert Donatelli, Michael J. Wooden, “Orthopaedic Physical Therapy”, Churchill Livingstone, New York, 1989.

William E. Prentice, “Therapeutic Modalities For Sports Medicine and     Athletic Training”, Mc Graw Hill Company, New York, 2003.